PendidikanDaerahNews

Mengisi Hari Libur Manfaatkan Tutup Botol Bekas, Anak Anak Desa Namu Bikin Gantungan Kunci Bernilai Ekonomi

456
×

Mengisi Hari Libur Manfaatkan Tutup Botol Bekas, Anak Anak Desa Namu Bikin Gantungan Kunci Bernilai Ekonomi

Share this article

 

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Masa libur sekolah dimanfaatkan secara produktif oleh anak-anak di Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Konawe Selatan SG-004, mereka diajak belajar mengolah tutup botol plastik bekas menjadi gantungan kunci yang unik, menarik, sekaligus bernilai ekonomi.

Program yang didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dra. Eko Tri Sulistyani, S.Si., M.Sc., dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM ini menjadi salah satu upaya mahasiswa menghadirkan kegiatan edukatif yang menyenangkan bagi anak-anak selama masa liburan.

Tak sekadar mengajarkan keterampilan membuat kerajinan, kegiatan ini juga menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan melalui pemanfaatan limbah plastik. Dengan konsep *belajar sambil berkarya*, peserta diperkenalkan bahwa barang yang selama ini dianggap sampah ternyata dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bahkan memiliki potensi ekonomi.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai bahaya sampah plastik terhadap lingkungan serta pentingnya menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab sehingga anak-anak lebih mudah memahami pentingnya pengelolaan sampah sejak usia dini.

Usai sesi edukasi, peserta langsung mempraktikkan proses pembuatan gantungan kunci. Tutup botol bekas yang telah dikumpulkan dibersihkan, dipotong berdasarkan warna, kemudian disusun di atas kertas roti dan dipanaskan menggunakan setrika hingga menyatu menjadi lembaran plastik. Setelah dingin, lembaran tersebut dipotong sesuai bentuk yang diinginkan, diberi lubang, lalu dipasangi ring gantungan kunci hingga menjadi produk siap pakai.

Suasana kegiatan berlangsung meriah. Anak-anak tampak antusias bereksperimen memadukan berbagai warna dan bentuk, saling menunjukkan hasil karya mereka, serta aktif bertanya kepada mahasiswa KKN yang mendampingi setiap tahapan pembuatan.

Salah seorang peserta, Jihan, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena memperoleh pengalaman baru dalam memanfaatkan barang bekas.

“Saya baru tahu kalau tutup botol bekas bisa dibuat menjadi gantungan kunci yang bagus. Seru sekali karena kami bisa memilih warna sendiri dan membuat bentuk yang kami suka. Saya ingin mencoba membuatnya lagi di rumah bersama teman-teman dan keluarga,” ujarnya antusias.(26/7/2026)

 

Apresiasi juga datang dari pemuda Desa Namu, Sai, yang menilai kegiatan tersebut mampu memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak.

“Program ini sangat bermanfaat karena anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar mengolah tutup botol bekas menjadi gantungan kunci yang menarik. Cara pembuatannya cukup sederhana sehingga mereka bisa mempraktikkannya kembali di rumah. Kegiatan seperti ini juga mengajarkan anak-anak untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sejak dini,” tuturnya.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim KKN turut menyusun dan membagikan booklet panduan pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas kepada peserta dan masyarakat. Buku panduan tersebut berisi informasi mengenai manfaat daur ulang plastik, alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah-langkah pembuatan, hingga peluang pengembangan kerajinan menjadi produk bernilai jual.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap semangat kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat terus tumbuh di kalangan masyarakat Desa Namu. Pemanfaatan limbah plastik menjadi produk kerajinan menjadi bukti bahwa sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus membuka peluang usaha berbasis kreativitas dan potensi lokal demi mewujudkan desa yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.(*AN)

Editor:NZ