NewsMetro

Kampung Nelayan Merah Putih Mulai Dibangun, Pemkot Kendari Bidik Kawasan Pesisir Modern dan Produktif

54
×

Kampung Nelayan Merah Putih Mulai Dibangun, Pemkot Kendari Bidik Kawasan Pesisir Modern dan Produktif

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI – Pemerintah Kota Kendari resmi memulai pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) melalui peletakan batu pertama di Kelurahan Puday, Kecamatan Abeli, Senin (20/7/2026). Program strategis nasional tersebut menjadi langkah awal transformasi kawasan pesisir menjadi sentra ekonomi perikanan yang lebih modern, tertata, dan mampu meningkatkan kesejahteraan ribuan keluarga nelayan.

Peletakan batu pertama dipimpin Wali Kota Kendari Siska Karina Imran bersama jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Program ini merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan kemandirian ekonomi, ketahanan pangan nasional, dan pembangunan masyarakat pesisir.

Dalam sambutannya, Wali Kota Siska Karina Imran mengatakan Kota Kendari memiliki karakter sebagai kota pesisir dengan 35 dari 65 kelurahan berada di kawasan pantai. Kondisi tersebut menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian daerah.

“Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih menjadi titik awal transformasi kawasan pesisir menuju kawasan yang produktif, modern, dan berdaya saing. Tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, memperkuat rantai pasok, memperluas akses pembiayaan, pemasaran, hingga melahirkan usaha-usaha baru berbasis perikanan yang dikelola masyarakat,” ujarnya.

Siska menjelaskan, Pemerintah Kota Kendari sebelumnya mengusulkan empat lokasi pembangunan, yakni Kelurahan Puday, Lapulu, Sambuli, dan Tondonggeu. Setelah melalui proses verifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan, tiga lokasi akhirnya ditetapkan sebagai penerima program, yaitu Puday, Sambuli, dan Tondonggeu.

Menurutnya, ketiga kawasan tersebut dipilih karena sekitar 80 persen penduduknya berprofesi sebagai nelayan dengan beragam alat tangkap seperti bubu, purse seine, sero, pancing cumi, hingga rawai.

Program ini diperkirakan akan memberikan manfaat langsung kepada sekitar 1.139 kepala keluarga nelayan, terdiri atas 425 keluarga di Kelurahan Puday, 452 keluarga di Sambuli, dan 262 keluarga di Tondonggeu.

Kategori pembangunan KNMP di Kota Kendari merupakan kawasan penyangga yang akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari tangki air, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dinding penahan tanah, jalan kawasan, kios perbekalan nelayan, penerangan kawasan, pondasi pabrik es portabel, shelter pendaratan ikan, hingga tambatan perahu.

Wali Kota menegaskan keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kota, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, koperasi nelayan, hingga aparat penegak hukum.

“Kami meminta seluruh perangkat daerah terus melakukan pendampingan dan penguatan kelembagaan agar program ini benar-benar berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pelabuhan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhtar, mengungkapkan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Kendari merupakan proyek pertama yang dimulai di Sulawesi Tenggara pada tahun 2026.

Ia menyebut tahun ini pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 48 titik KNMP di Sulawesi Tenggara, sementara secara nasional ditargetkan mencapai 1.228 lokasi.

“Kami berharap Pemerintah Kota Kendari kembali mengusulkan lokasi-lokasi baru yang siap dibangun. Selama status lahannya jelas, kementerian siap mendukung pengembangannya,” ujarnya.

Perwakilan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Muji, menambahkan pembangunan KNMP Kota Kendari dibiayai melalui APBN Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp11,81 miliar dengan masa pelaksanaan selama 135 hari.

Ia berharap pembangunan berjalan lancar sehingga kawasan tersebut tidak hanya menjadi pusat aktivitas perikanan, tetapi juga mampu memperkuat ekonomi lokal, membuka lapangan kerja baru, dan menjadi contoh pengembangan kawasan pesisir yang terintegrasi serta berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.(SM)