NewsMetro

Wali Kota Siska Tegaskan Pencegahan Stunting di Kendari Harus Dimulai dari 10 Ribu Keluarga Berisiko

19
×

Wali Kota Siska Tegaskan Pencegahan Stunting di Kendari Harus Dimulai dari 10 Ribu Keluarga Berisiko

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI, – Pemerintah Kota Kendari memperkuat strategi pencegahan stunting dengan mengarahkan perhatian tidak hanya kepada anak yang telah mengalami stunting, tetapi juga ribuan keluarga yang berada dalam kategori berisiko.

Wali Kota Kendari Siska Karina Imran menegaskan, sekitar 10 ribu keluarga berisiko harus menjadi sasaran utama intervensi agar potensi munculnya kasus baru dapat ditekan.

Hal itu disampaikan Siska saat menghadiri kegiatan Advokasi dan Promosi Pokja kepada stakeholder terkait Gerakan Orang Tua Asuh serta Penguatan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam penanganan, pencegahan dan penurunan stunting di Aula Samaturu Balai Kota Kendari, Rabu (26/8/2026).

Menurut Wali Kota Siska, penanganan stunting tidak boleh berhenti pada upaya menangani anak yang sudah masuk kategori stunting. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak keluarga berada dalam kondisi berisiko.

“Bicara stunting, bicara masa depan. Kalau sudah anak-anak kita tidak kita perhatikan, siapa yang meneruskan daerah ini dan bangsa,” tegas Siska.

Wali Kota menjelaskan, persoalan stunting berkaitan dengan banyak faktor, mulai dari kondisi rumah, sanitasi, pola asuh, lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.

Karena itu, intervensi harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh unsur pemerintah, kader, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Siska menyebut jumlah anak yang mengalami stunting di Kota Kendari telah menunjukkan tren penurunan, dari sekitar 500 anak menjadi 462 anak. Namun, angka tersebut tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan kelompok yang jauh lebih besar, yakni keluarga berisiko.

“Kalau kita hanya fokus sama 460, saya yakin pasti bertambah. Karena yang 10 ribu ini kita tidak fokus. Padahal faktor risiko ini yang akan meningkatkan menjadi status penderitaan,” ujarnya.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting Kota Kendari turun dari 25,7 persen pada 2023 menjadi 24,4 persen pada 2024. Sementara berdasarkan data E-PPGBM, angka stunting pada Desember 2025 tercatat 1,73 persen.

Pendampingan terhadap kelompok sasaran juga terus dilakukan. Hingga Agustus 2026, sebanyak 3.349 sasaran telah mendapatkan pendampingan. Jumlah tersebut terdiri atas 374 pasangan calon pengantin, 823 ibu hamil, 308 ibu pascapersalinan dan 1.844 baduta.

TPK juga dilibatkan dalam distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui dan baduta, termasuk balita sesuai sasaran program.

Di Kendari, penerima MBG telah mencapai 12.720 orang dari target 14.797 sasaran atau sekitar 86 persen. Data penerima telah disampaikan kepada masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Siska meminta seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan program tersebut. Menurutnya, TPK tidak cukup hanya melakukan pendataan dan pendampingan, tetapi harus benar-benar memahami kondisi keluarga yang menjadi sasaran.

“Bukan sekadar TPK mendampingi data, mengevaluasi, tetapi tidak mengetahui data. Bapak-Ibu harus tahu data juga, agar kita tahu sampai di mana target kita,” katanya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Kendari Jahudding mengatakan, TPK yang dibentuk berjumlah 525 orang. Tim tersebut melibatkan kader PKK dan kader KB untuk mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan balita.

“Hasil yang diharapkan dari capaian ini adalah tentu meningkatkan kapasitas dan pemahaman TPK dalam melaksanakan pendampingan keluarga dalam rangka pencegahan dan penurunan angka stunting di Kota Kendari,” ungkapnya.

Pemkot Kendari selanjutnya mendorong penguatan Gerakan Orang Tua Asuh serta sinergi lintas organisasi perangkat daerah. Upaya tersebut diharapkan membuat pencegahan stunting berjalan lebih terarah, dengan keluarga berisiko sebagai salah satu prioritas utama.

Dengan demikian, penurunan angka stunting tidak sekadar mengejar capaian statistik, tetapi memastikan setiap keluarga mendapat pendampingan yang dibutuhkan agar anak-anak Kendari dapat tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik.(SM)