NewsPariwisataPendidikan

UM Kendari Siapkan Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Namu Berbasis Wisata Bahari dan Ekonomi Kreatif

131
×

UM Kendari Siapkan Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Namu Berbasis Wisata Bahari dan Ekonomi Kreatif

Share this article

TERAMEDIA.ID, Kendari — Universitas Muhammadiyah Kendari melalui tim pengabdian kepada masyarakat merencanakan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Program tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Pesisir melalui Sinergitas Wisata Bahari dan Ekonomi Kreatif dalam Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa Namu sebagai Desa Wisata Unggulan di Kabupaten Konawe Selatan.”

Program dirancang sebagai kegiatan Pemberdayaan Desa Binaan dengan melibatkan Pemerintah Desa Namu, Kelompok Nelayan Namu Bahari, Kelompok Perempuan Namumeambo, dosen lintas bidang keilmuan, serta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari. Kegiatan akan dilaksanakan secara bertahap melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi tepat guna, pendampingan, monitoring, dan evaluasi.

Ketua tim pelaksana, Dr. Mohammad Rais, S.Pi., M.Si., akan mengoordinasikan pengembangan wisata bahari berbasis masyarakat, khususnya penyusunan paket eduwisata snorkeling, penyelaman, wisata memancing, dan pengenalan lingkungan pesisir. Dalam pelaksanaannya, masyarakat nelayan akan didorong agar tidak hanya bergantung pada kegiatan penangkapan ikan, tetapi juga mampu mengembangkan jasa wisata sebagai sumber pendapatan alternatif.

 

” Kelompok Nelayan Namu Bahari direncanakan memperoleh pelatihan mengenai keselamatan wisata bahari, pemanduan wisata, pencatatan hasil tangkapan, penanganan ikan pasca panen, penyusunan standar operasional prosedur, serta pengelolaan usaha kelompok. Program juga akan mengenalkan pemanfaatan peralatan selam, freezer berbasis energi surya, sistem pembangkit listrik tenaga surya portabel, serta apartemen ikan yang dapat mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan sekaligus menjadi daya tarik wisata bawah laut.” ungkap Rais (01/07/2026)

Selain penguatan sektor wisata, program tersebut akan menyasar pengembangan ekonomi kreatif melalui Kelompok Perempuan Namumeambo. Kelompok ini akan mendapatkan pelatihan pengolahan hasil perikanan dan pertanian lokal menjadi produk yang lebih beragam, higienis, menarik, dan memiliki nilai jual.

Produk yang direncanakan untuk dikembangkan antara lain abon ikan, keripik ikan, sambal berbahan hasil perikanan, produk berbasis kelapa, kue kering, serta souvenir khas Desa Namu. Untuk menunjang kegiatan produksi, tim akan memperkenalkan mesin pemarut dan pemeras santan otomatis, mesin pengaduk dan pemasak bumbu, serta mesin penyegel botol.

“Pendampingan juga mencakup penyusunan standar higiene dan sanitasi, perencanaan produksi, pencatatan keuangan sederhana, pengemasan, pelabelan, branding, pemasaran digital, serta fasilitasi pengurusan legalitas usaha, izin edar, dan sertifikasi halal produk.” lanjutnya.

Melalui program tersebut, Desa Namu ditargetkan memiliki paket wisata bahari yang terstandar, produk pangan olahan yang lebih beragam, souvenir khas desa, serta kelembagaan kelompok masyarakat yang lebih tertata. Pada tahun pertama, kelompok perempuan ditargetkan mampu menghasilkan sekitar empat hingga enam jenis produk olahan dengan kapasitas produksi mencapai 15–20 kilogram per minggu.

Sementara itu, kelompok nelayan ditargetkan mampu mengembangkan sedikitnya satu produk eduwisata unggulan berupa paket snorkeling dan penyelaman berbasis nelayan. Sebanyak lima hingga sepuluh nelayan direncanakan terlibat sebagai pemandu lokal dan operator wisata, dengan frekuensi pelayanan sekitar dua hingga empat kali dalam satu bulan.

Program ini juga menargetkan peningkatan kontribusi pendapatan dari kegiatan nonpenangkapan bagi kelompok nelayan sebesar 20–30 persen. Adapun pendapatan Kelompok Perempuan Namumeambo dari produk pangan olahan dan ekonomi kreatif diharapkan meningkat sekitar 25–35 persen.

Kegiatan direncanakan berlangsung selama delapan bulan pada tahun pertama, mulai dari persiapan dan koordinasi, pelatihan teknis, penerapan peralatan, simulasi produksi dan layanan wisata, evaluasi tengah tahun, pengembangan kemasan dan legalitas produk, uji pasar, hingga penyusunan rencana tindak lanjut.

Program ini turut melibatkan mahasiswa dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Teknologi Hasil Perikanan, dan bidang keilmuan lainnya. Mahasiswa akan berperan dalam pemetaan potensi wisata, pendampingan produksi, pengembangan kemasan, dokumentasi, edukasi lingkungan, serta monitoring pelaksanaan kegiatan lapangan.

Keterlibatan mahasiswa diharapkan memberikan pengalaman pembelajaran langsung di luar kampus sekaligus memperkuat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok nelayan, kelompok perempuan, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu membangun rantai nilai ekonomi lokal yang menghubungkan sektor perikanan, wisata bahari, kuliner, produk olahan, dan souvenir desa.

“Sinergi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya Desa Namu sebagai desa wisata bahari yang mandiri, produktif, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Konawe Selatan.” tutupnya.(*AN)

Editor:NZ