Pendidikan

Mahasiswa UGM Ajak Anak Desa Batu Jaya Tuangkan Imajinasi Lewat Short Story dan Story Telling

280
×

Mahasiswa UGM Ajak Anak Desa Batu Jaya Tuangkan Imajinasi Lewat Short Story dan Story Telling

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Bercerita tidak hanya menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengasah kreativitas, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian tampil di depan orang lain.

Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar program “Kreatif Bercerita: Short Story & Story Telling”bagi anak-anak di Desa Batu Jaya, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan tersebut berfokus pada pengembangan kreativitas dan kemampuan bercerita anak-anak melalui proses pembuatan cerita pendek secara bertahap.

Program ini dilaksanakan oleh Salma Ramadhani Putri Utomo, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dan berada di bawah bimbingan Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., dosen FMIPA UGM selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Kegiatan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan dirancang secara bertahap, mulai dari mengenalkan konsep cerita pendek hingga melatih anak-anak menyampaikan cerita hasil karya mereka sendiri.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak untuk bebas berimajinasi. Mereka tidak hanya belajar membuat cerita, tetapi juga belajar bahwa ide yang mereka miliki dapat dikembangkan dan disampaikan kepada orang lain.” ujar Salma.

Pada pertemuan pertama, anak-anak diperkenalkan dengan konsep dasar short story dan story telling menggunakan media gambar.

Melalui gambar tersebut, anak-anak diajak untuk membangun imajinasi dengan menciptakan karakter serta menjelaskan berbagai peristiwa yang mungkin terjadi dalam sebuah cerita.

Penggunaan media visual membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menarik. Anak-anak tampak antusias ketika diminta mengembangkan gambar menjadi sebuah gagasan cerita.

Menurut Salma, penggunaan gambar menjadi salah satu cara untuk membantu anak-anak memulai proses kreatif tanpa merasa terbebani.

“Terkadang anak-anak memiliki banyak imajinasi, tetapi belum tahu bagaimana cara memulainya. Dengan bantuan gambar, mereka memiliki titik awal untuk menciptakan karakter, menentukan peristiwa, lalu mulai menyusun cerita,” katanya.

Memasuki pertemuan kedua, peserta mulai diajak berlatih menyusun kalimat berdasarkan kata-kata yang diberikan.

Tahap tersebut menjadi proses untuk menghubungkan pemahaman anak mengenai sebuah cerita dengan kemampuan mereka menciptakan cerita sendiri.

Anak-anak belajar menghubungkan satu kata dengan kata lainnya hingga membentuk gagasan yang utuh dan dapat dipahami.

Dalam proses tersebut, mereka juga diperkenalkan pada pemahaman bahwa sebuah cerita tidak harus langsung panjang. Cerita dapat dikembangkan secara perlahan, dimulai dari kata, menjadi kalimat, hingga akhirnya membentuk sebuah alur sederhana.

“Kami mencoba mengajak anak-anak memahami prosesnya secara bertahap. Mereka tidak perlu langsung membuat cerita panjang. Yang terpenting adalah berani memulai dari sebuah ide sederhana dan kemudian mengembangkannya,” tutur Salma.

Pada pertemuan terakhir, anak-anak mendapatkan tantangan untuk mengembangkan sebuah kalimat menjadi cerita pendek bertema fabel.

Setiap peserta diberikan satu kalimat sebagai awal cerita. Dari kalimat tersebut, mereka diberi kebebasan untuk mengembangkan tokoh, peristiwa, dan jalan cerita sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Setelah menyelesaikan cerita, setiap anak kemudian mendapat kesempatan untuk menyampaikannya di hadapan teman-teman.

Tahap tersebut tidak hanya menjadi latihan kemampuan bercerita, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun rasa percaya diri dan keberanian tampil di depan orang lain.

“Bagian yang paling penting bukan hanya ketika mereka berhasil menulis cerita, tetapi saat mereka berani berdiri dan menyampaikan cerita itu di depan teman-temannya. Dari situ, anak-anak belajar untuk percaya pada ide dan kemampuan mereka sendiri,” ungkap Salma.

Seluruh rangkaian kegiatan Kreatif Bercerita: Short Story & Story Telling berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme.

Keberagaman ide, imajinasi, dan cerita yang muncul dari setiap anak membuat suasana pembelajaran semakin berwarna.

Melalui tiga kali pertemuan, anak-anak tidak hanya belajar mengenai cerita pendek dan fabel, tetapi juga mengalami proses kreatif secara langsung. Mereka mulai dari melihat dan memahami sebuah cerita, menyusun kata menjadi kalimat, mengembangkan kalimat menjadi cerita, hingga berani menceritakannya di depan teman-teman.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi anak-anak Desa Batu Jaya untuk terus mengembangkan kreativitas dan kemampuan berkomunikasi sejak dini.

Lebih dari sekadar menghasilkan cerita pendek, kegiatan ini membawa pesan bahwa setiap anak memiliki ide, imajinasi, dan cerita yang layak untuk didengar.(*)

Editor:NZ