Pendidikan

Dari Pisang yang Ditumbuk dengan Gelas, KKN UGM Kenali Kehangatan Taba-Taba Desa Namu

141
×

Dari Pisang yang Ditumbuk dengan Gelas, KKN UGM Kenali Kehangatan Taba-Taba Desa Namu

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Kuliner tradisional kerap menjadi jalan sederhana untuk mengenal sebuah daerah dan masyarakatnya. Bagi mahasiswa KKN-PPM UGM Konawe Selatan 2026, pengalaman itu hadir dari dapur warga Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan.

Di tengah suasana hangat dan penuh keakraban, mahasiswa KKN Pesonamu UGM berkesempatan belajar membuat Taba-Taba, kuliner sederhana berbahan dasar pisang yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.

Kegiatan yang berlangsung di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., tidak sekadar menjadi kesempatan untuk mengenal proses pembuatan makanan tradisional. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga selama pelaksanaan KKN.

Kegiatan berlangsung di salah satu rumah warga Desa Namu. Dengan bahan-bahan sederhana seperti pisang matang, gula, baking soda, dan tepung, mahasiswa diajak terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan Taba-Taba.

Salah satu hal yang menarik perhatian mahasiswa adalah cara warga mengolah pisang.

Pisang yang telah matang tidak dihaluskan menggunakan ulekan ataupun blender. Sebagai gantinya, masyarakat Desa Namu menggunakan bagian dasar gelas untuk menumbuk pisang hingga lembut.

Cara sederhana tersebut telah lama digunakan masyarakat setempat dalam mengolah makanan. Dari peralatan yang tersedia di rumah, lahirlah cara praktis yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

Setelah pisang cukup halus, gula dan tepung dicampurkan hingga membentuk adonan. Adonan kemudian diambil menggunakan sendok dan dimasukkan ke dalam minyak panas.

Perlahan, adonan berubah warna menjadi kuning keemasan. Aroma pisang yang berpadu dengan adonan yang baru matang pun memenuhi ruangan, menambah hangat suasana kebersamaan sore itu.

Selama proses memasak, mahasiswa KKN Pesonamu UGM tidak hanya belajar mengenai cara membuat Taba-Taba.

 

Di sela-sela kegiatan, warga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Desa Namu. Obrolan ringan mengalir di antara proses menyiapkan bahan, mengaduk adonan, hingga menunggu Taba-Taba matang.

Kegiatan sederhana tersebut menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman, bercengkerama, dan membangun kedekatan.

Bagi mahasiswa KKN, pengalaman seperti ini memberikan kesempatan untuk mengenal kehidupan masyarakat tidak hanya melalui program kerja, tetapi juga melalui aktivitas sehari-hari yang dijalani bersama warga.

Setelah seluruh Taba-Taba selesai digoreng, mahasiswa dan warga pun menikmatinya bersama. Canda dan obrolan ringan terus mengiringi kebersamaan mereka.

Namun, hari itu belum berakhir.

Kebersamaan kemudian berlanjut dengan kegiatan memisahkan bunga cengkeh dari tangkainya. Di tengah aktivitas tersebut, tawa dan percakapan masih terdengar. Pekerjaan sederhana yang dilakukan bersama justru menjadi momen untuk semakin mempererat hubungan.

Bagi tim KKN Pesonamu UGM, hari itu bukan semata-mata tentang belajar membuat Taba-Taba.

Dari pisang yang ditumbuk menggunakan dasar gelas, adonan yang digoreng bersama, hingga Taba-Taba yang dinikmati di tengah obrolan, tersimpan cerita kecil yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka di Desa Namu.

Taba-Taba mungkin sederhana. Terbuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan seperti pisang, gula, dan tepung.

Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kehangatan sebuah pertemuan dan cerita tentang masyarakat yang terbuka mengajak mahasiswa menjadi bagian dari keseharian mereka.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa KKN Pesonamu UGM tidak hanya mengenal cita rasa Taba-Taba.

Mereka juga mengenal sesuatu yang tak kalah berharga: rasa kebersamaan yang tumbuh dari hal-hal sederhana di Desa Namu.

Karena terkadang, untuk mengenal sebuah tempat, tidak selalu harus melalui perjalanan yang jauh. Cukup duduk bersama, memasak di dapur warga, mendengarkan cerita, lalu menikmati hidangan yang dibuat dengan tangan sendiri.(*)

 

Editor:NZ