Pendidikan

Dari Latihan Siang hingga Dua Panggung, Anak Batu Jaya Tampil Memukau Lewat Tari Manuk Dadali

229
×

Dari Latihan Siang hingga Dua Panggung, Anak Batu Jaya Tampil Memukau Lewat Tari Manuk Dadali

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Suara lagu Manuk Dadali mengalun di tengah suasana siang Desa Batu Jaya. Sejumlah anak tampak mengikuti irama, menggerakkan tubuh, lalu berpindah posisi sesuai formasi yang telah dilatih berulang kali.

Bagi mereka, Tari Manuk Dadali bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Namun, kali ini tantangan berbeda menanti. Anak-anak Desa Batu Jaya harus mempelajari rangkaian koreografi dan pola lantai baru untuk ditampilkan dalam dua agenda penting penutupan KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun 2026.

Melalui latihan rutin, proses kreatif, hingga persiapan properti tari, kerja keras mereka akhirnya terbayar dengan kesempatan tampil di Malam Ramah Tamah Desa Batu Jaya pada 5 Agustus 2026 dan Festival Budaya penutupan KKN-PPM UGM pada 6 Agustus 2026.

Program pelatihan Tari Manuk Dadali ini merupakan salah satu program kerja Nazwa Karunia Azani, mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, במסגרת KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 Unit SG004 Konawe Selatan Sub Unit Batu Jaya.

Pertemuan pertama tidak langsung diisi dengan koreografi yang rumit. Anak-anak terlebih dahulu diajak kembali mengenal lagu Manuk Dadali melalui kegiatan menyanyi bersama.

Mereka belajar mengikuti lirik, irama, dan tempo sebagai bekal untuk memahami musik pengiring yang nantinya dipadukan dengan gerakan tari.

Pendekatan tersebut membuat proses belajar berlangsung lebih santai dan interaktif. Dengan mengenal bagian-bagian lagu terlebih dahulu, anak-anak menjadi lebih mudah memahami kapan harus memulai gerakan dan melakukan perpindahan formasi.

Kami tidak langsung mengajarkan semua gerakan. Anak-anak kami ajak mengenal dan menyanyikan lagunya terlebih dahulu supaya mereka lebih familiar dengan irama dan tempo. Setelah itu, proses belajar koreografi menjadi lebih mudah untuk dilakukan bersama,” ujar Nazwa Karunia Azani.(5/8/2026)

Setelah memahami musik pengiring, latihan berlanjut pada rangkaian gerakan dan formasi baru yang telah disiapkan.

Pada awal latihan, tidak semua proses berjalan mulus. Beberapa anak masih tertukar dalam mengingat urutan gerakan, sementara perpindahan posisi membutuhkan pengulangan agar dapat dilakukan secara serempak.

Koreografi kemudian dipelajari secara bertahap. Rangkaian gerakan dibagi menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya disatukan dengan musik.

Latihan rutin yang dilakukan dua kali dalam seminggu selama periode KKN memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengulang, memperbaiki, dan menyempurnakan setiap gerakan.

Perkembangan mereka pun mulai terlihat. Gerakan yang sebelumnya masih membutuhkan banyak arahan perlahan dapat dilakukan secara mandiri. Perpindahan formasi menjadi semakin teratur dan peserta mulai terbiasa memperhatikan posisi satu sama lain.

Menurut Nazwa, proses latihan tidak hanya bertujuan menghasilkan penampilan yang baik di atas panggung.

Yang paling berkesan bagi saya adalah melihat perkembangan mereka. Awalnya beberapa gerakan dan formasi masih cukup sulit, tetapi karena terus berlatih, mereka mulai bisa melakukannya dengan lebih mandiri. Di situ mereka juga belajar bekerja sama dan saling mengingatkan,” katanya.

Latihan bersama akhirnya menjadi ruang belajar tentang kekompakan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Setiap anggota memiliki peran untuk menjaga keselarasan kelompok sehingga keberhasilan penampilan menjadi hasil kerja bersama.

Persiapan pertunjukan tidak hanya dilakukan melalui latihan gerakan. Anak-anak juga dilibatkan dalam pembuatan dan penghiasan mahkota berbentuk burung sebagai properti pendukung Tari Manuk Dadali.

Dengan pendampingan mahasiswa KKN, mereka bebas menentukan susunan hiasan sesuai kreativitas masing-masing.

Kegiatan tersebut membuat anak-anak tidak hanya menjadi penampil, tetapi juga ikut terlibat dalam proses kreatif di balik pertunjukan.

Mahkota yang telah dihias kemudian digunakan saat tampil di atas panggung. Selain melengkapi kostum, properti tersebut menjadi karya personal yang dapat disimpan sebagai kenang-kenangan.

Kami ingin anak-anak terlibat dalam prosesnya, bukan hanya datang untuk menari. Dengan membuat dan menghias properti sendiri, mereka bisa merasa bahwa penampilan itu benar-benar merupakan hasil kerja dan kreativitas mereka bersama,” tutur Nazwa.

Kesempatan pertama untuk menunjukkan hasil latihan hadir dalam Malam Ramah Tamah Desa Batu Jaya pada 5 Agustus 2026.

Di hadapan masyarakat, anak-anak membawakan koreografi baru yang telah mereka pelajari selama latihan rutin. Penampilan tersebut menjadi pengalaman penting sekaligus kesempatan untuk menguji kesiapan mereka dalam suasana pertunjukan yang sesungguhnya.

Hasil penampilan pertama kemudian menjadi bahan evaluasi sebelum mereka kembali naik panggung pada agenda berikutnya.

Sehari kemudian, pada 6 Agustus 2026, kelompok tari kembali tampil dalam Festival Budaya penutupan KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026.

Penampilan kedua berlangsung meriah dan menjadi puncak dari seluruh proses latihan yang telah dijalani selama kegiatan KKN.

Gerakan dan formasi yang sebelumnya terasa menantang kini dapat ditampilkan dengan lebih percaya diri. Mahkota yang dihias sendiri turut melengkapi penampilan mereka di atas panggung.

Bagi Nazwa, dua kesempatan tampil tersebut menjadi bukti bahwa proses belajar yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perkembangan yang nyata.

Saya berharap pengalaman ini tidak hanya berhenti sebagai kenangan tampil di panggung. Anak-anak sudah belajar bahwa untuk bisa menguasai sesuatu, mereka perlu berproses, berlatih, dan tidak mudah menyerah ketika menemukan kesulitan,” ungkapnya.

Program pelatihan Tari Manuk Dadali ini dilaksanakan di bawah bimbingan Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., dosen FMIPA UGM selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Lebih dari sekadar mempersiapkan sebuah pertunjukan, seluruh rangkaian kegiatan menjadi pengalaman belajar bagi anak-anak Desa Batu Jaya.

Mereka menghadapi kesulitan, mengulang gerakan yang belum dikuasai, belajar menyesuaikan diri dengan teman, menciptakan properti, hingga akhirnya memperoleh kesempatan untuk menunjukkan hasil kerja keras mereka di hadapan masyarakat.

Dari pertemuan awal yang diisi dengan menyanyikan lagu, latihan koreografi, pembuatan mahkota, hingga dua kali tampil di panggung, seluruh proses tersebut meninggalkan pengalaman tersendiri.

Bagi anak-anak Desa Batu Jaya, Tari Manuk Dadali bukan sekadar pertunjukan. Dari setiap gerakan yang diulang, tumbuh rasa percaya diri. Dari setiap formasi yang disatukan, lahir kekompakan. Dan dari dua panggung yang berhasil mereka lalui, tersimpan kenangan tentang belajar, berkarya, dan tumbuh bersama.(*)

 

Editor:NZ