NewsMetro

Sri Yastin Asrun Berpulang, Meninggalkan Warisan Pengabdian untuk Perempuan, Keluarga, dan Budaya Kendari

115
×

Sri Yastin Asrun Berpulang, Meninggalkan Warisan Pengabdian untuk Perempuan, Keluarga, dan Budaya Kendari

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI – Kota Kendari kehilangan salah satu tokoh perempuan terbaiknya. Dra. Hj. Sri Yastin Asrun, MM, meninggal dunia pada Senin (15/6/2026) di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, setelah menjalani perawatan medis.

Kepergian Sri Yastin Asrun tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga besar, tetapi juga bagi masyarakat Kota Kendari yang selama ini mengenalnya sebagai sosok perempuan yang aktif mengabdikan diri di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, hingga kegiatan keagamaan.

Perempuan kelahiran Kendari, 3 Februari 1961 itu tutup usia pada umur 65 tahun. Ia meninggalkan suami tercinta, Dr. Ir. Asrun, M.Eng.Sc., mantan Wali Kota Kendari dua periode, dua putra yakni Adriatma Dwi Putra dan Asrizal Pratama Putra, serta lima orang cucu.

Nama Sri Yastin mulai dikenal luas masyarakat ketika mendampingi Asrun memimpin Kota Kendari. Namun, kiprahnya tidak sekadar sebagai pendamping kepala daerah. Ia tampil sebagai penggerak berbagai program sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Selama menjabat Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kendari dan Ketua Dekranasda Kota Kendari periode 2007–2017, Sri Yastin aktif mendorong program pemberdayaan keluarga, peningkatan kesejahteraan perempuan, kesehatan ibu dan anak, serta pengembangan industri kerajinan lokal.

Berbagai kegiatan pembinaan keluarga dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dijalankan pada masa itu menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan sosial Kota Kendari.

Semangat pengabdiannya terus berlanjut di dunia birokrasi. Sebagai aparatur sipil negara, Sri Yastin mengemban sejumlah amanah hingga akhirnya dipercaya menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kendari sebelum memasuki masa pensiun.

Posisi tersebut seakan menjadi representasi dari perjuangan panjangnya dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak serta meningkatkan kualitas kehidupan keluarga di daerah.

Meski telah menyelesaikan tugasnya sebagai ASN, Sri Yastin tidak pernah benar-benar berhenti mengabdi. Ia tetap aktif mengambil peran di tengah masyarakat melalui berbagai organisasi sosial, budaya, dan keagamaan.

Hingga akhir hayatnya, Sri Yastin masih menjabat Ketua Lembaga Adat Tolaki (LAT) Kota Kendari. Melalui organisasi tersebut, ia berupaya menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi Tolaki agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Tak hanya itu, ia juga dipercaya memimpin Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Kendari periode 2025–2030. Di bawah kepemimpinannya, BKMT terus menjalankan berbagai program pembinaan keagamaan, penguatan silaturahmi antarmajelis taklim, serta pemberdayaan perempuan melalui kegiatan keislaman.

Bagi banyak kalangan, Sri Yastin merupakan sosok yang mampu menggabungkan peran sebagai ibu, birokrat, aktivis sosial, tokoh adat, dan pemimpin organisasi keagamaan dalam satu waktu. Kerendahan hati dan kepeduliannya terhadap masyarakat menjadi alasan mengapa namanya begitu dekat dengan berbagai lapisan warga.

Kepergian Sri Yastin Asrun menjadi kehilangan besar bagi Kota Kendari. Namun jejak pengabdian yang ditinggalkannya akan terus hidup melalui berbagai program, gagasan, dan nilai-nilai yang selama ini ia perjuangkan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, Sri Yastin Asrun. Dedikasi, ketulusan, dan pengabdianmu telah menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Kota Kendari dan akan selalu dikenang oleh masyarakat yang pernah merasakan manfaat dari karya dan pengabdianmu.(SM)