NewsDaerahSosial Budaya

Festival Liangkobori 2026: Dorong Pelestarian Warisan Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

14
×

Festival Liangkobori 2026: Dorong Pelestarian Warisan Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

Share this article

TERAMEDIA.ID, MUNA- Festival Liangkobori 2026 resmi digelar pada 11–14 Juli 2026 di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia , Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, festival ini mengusung tema “Lestarikan Budaya Leluhur, Daseise Lalu Damowanu Liwu” sebagai komitmen menjaga warisan budaya Muna sekaligus memperkuat identitas daerah.

Pembukaan festival dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Wakil Menteri Dalam Negeri Agus Triyono, anggota DPD RI perwakilan Sulawesi Tenggara Umar Bonte, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, sejumlah bupati, tokoh adat, akademisi, serta ratusan masyarakat dan wisatawan.

Bupati Muna, Bachrun Labuta, mengatakan Festival Liangkobori diharapkan menjadi momentum lahirnya berbagai kebijakan yang mampu memperkuat perlindungan dan pelestarian situs-situs cagar budaya di tanah Muna. Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki daerah harus dijaga agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Senada dengan itu, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menegaskan pelestarian warisan budaya membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat adat hingga komunitas budaya. Ia berharap Kementerian Kebudayaan dapat memberikan dukungan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola cagar budaya, penguatan riset, serta penelitian yang berkelanjutan sehingga keberadaan situs budaya mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyebut lukisan purba di Liangkobori sebagai temuan yang memiliki nilai luar biasa dan bahkan menjadi rekor baru dalam kajian lukisan cap tangan prasejarah di dunia. Menurutnya, masih banyak misteri yang tersimpan di kawasan tersebut sehingga menjadi tantangan bagi para peneliti untuk terus mengungkap sejarah peradaban Nusantara.

Ia menegaskan, berbagai temuan arkeologi di Liangkobori tidak boleh berhenti sebatas penemuan ilmiah, tetapi harus menjadi pijakan untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, sebelum dipromosikan sebagai destinasi wisata budaya, perlindungan terhadap keaslian situs harus menjadi prioritas utama agar nilai autentik warisan budaya tetap terjaga.(DN)