Sosial BudayaPendidikan

Pe’a Loa, Tradisi Doa Bersama Suku Tolaki yang Menjaga Kebersamaan di Desa Batu Jaya

349
×

Pe’a Loa, Tradisi Doa Bersama Suku Tolaki yang Menjaga Kebersamaan di Desa Batu Jaya

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Di tengah kehidupan masyarakat pesisir Desa Batu Jaya, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, masih terjaga sebuah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, yakni “Pe’a Loa”.

Tradisi yang dikenal di kalangan masyarakat Suku Tolaki tersebut merupakan kegiatan doa bersama untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, salah satunya dalam peringatan hari ke-40 setelah wafat.

Namun, Pe’a Loa bukan sekadar ritual doa. Tradisi ini juga menjadi ruang berkumpul bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat dalam suasana penuh kebersamaan serta semangat gotong royong.

Keberadaan tradisi tersebut menjadi perhatian Melani Fatikan, mahasiswa Program Studi Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mendokumentasikan Pe’a Loa sebagai salah satu bentuk kearifan lokal selama mengikuti KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 Unit SG004 Konawe Selatan Sub Unit Batu Jaya.

Kegiatan KKN tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., dosen FMIPA UGM selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Menurut Melani, Pe’a Loa tidak hanya mencerminkan nilai religius dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong dan kepedulian sosial yang masih terpelihara di Desa Batu Jaya.

“Sejak pagi hari, keluarga yang mengadakan Pe’a Loa mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan acara. Kaum ibu bergotong royong memasak aneka hidangan untuk disajikan kepada para tamu. Berbagai menu, seperti ikan bakar, olahan hasil laut, sayur, hingga makanan tradisional lainnya, disiapkan secara bersama-sama. Sementara itu, anggota keluarga dan warga lainnya turut menyiapkan tempat pelaksanaan serta menyambut masyarakat yang datang untuk membantu.” ungkapnya.(3/8/2026).

Seluruh proses berlangsung dalam semangat kekeluargaan. Masyarakat saling membantu tanpa membedakan status maupun usia, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih hidup dalam kehidupan sehari-hari warga.

Memasuki waktu siang hingga sekitar pukul 15.00 WITA, masyarakat mulai berkumpul untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama. Lantunan doa dan bacaan ayat suci dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus memohonkan ampunan bagi almarhum atau almarhumah.

Suasana berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan, mencerminkan nilai spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Desa Batu Jaya.

“Pe’a Loa bukan hanya tradisi untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal, tetapi juga menjadi momen mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan di antara masyarakat” ujar Ruslan, salah seorang warga Desa Batu Jaya.

Bagi Melani, tradisi tersebut menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Batu Jaya. Mulai dari proses memasak, mempersiapkan acara, hingga pelaksanaan doa bersama, seluruh rangkaian kegiatan dilakukan secara kolektif sebagai wujud saling membantu dan menghormati sesama.

Melalui dokumentasi tersebut, Tim KKN-PPM UGM Unit SG004 Konawe Selatan Sub Unit Batu Jaya berharap tradisi Pe’a Loa dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Suku Tolaki di Desa Batu Jaya.

Di tengah perubahan zaman, Pe’a Loa menjadi pengingat bahwa kebersamaan, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada mereka yang telah berpulang merupakan nilai-nilai luhur yang patut dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya.(*)

Editor:NZ