Opini

Meti-Meti: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Pelajaran tentang Harmoni Manusia dan Alam

477
×

Meti-Meti: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Pelajaran tentang Harmoni Manusia dan Alam

Share this article

 

Oleh : Melani Fatikan

 

TERAMEDIA.ID, – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat sering kali memandang kemajuan sebagai sesuatu yang identik dengan teknologi dan industrialisasi. Akibatnya, berbagai tradisi lokal perlahan mulai dipinggirkan karena dianggap tidak lagi relevan dengan kehidupan masa kini. Padahal, di balik tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tersimpan pengetahuan ekologis yang telah teruji oleh waktu. Salah satunya adalah tradisi meti-meti yang masih hidup di Desa Batu Jaya, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Bagi masyarakat Batu Jaya, surutnya air laut bukan sekadar fenomena pasang surut yang terjadi secara alamiah. Dalam bahasa Erekke/Tolaki, kondisi tersebut dikenal dengan istilah meti. Ketika laut surut, hamparan karang yang sebelumnya tertutup air menjadi terbuka, menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk mencari kerang, siput laut, kepiting, bulu babi, dan berbagai biota laut lainnya yang dapat dikonsumsi bersama keluarga. Aktivitas ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir selama bertahun-tahun.

Tradisi meti-meti sesungguhnya mengajarkan cara pandang yang berbeda terhadap alam. Masyarakat tidak mengeksploitasi laut tanpa batas, melainkan memanfaatkan apa yang disediakan alam pada waktu yang tepat. Mereka memahami siklus pasang surut, mengenali lokasi yang aman, serta mengetahui jenis biota yang layak diambil. Pengetahuan tersebut tidak diperoleh dari buku pelajaran, tetapi diwariskan melalui pengalaman dan praktik langsung dari orang tua kepada anak-anak mereka.

Di sinilah letak nilai penting tradisi tersebut. Meti-meti bukan hanya aktivitas mencari bahan pangan, melainkan ruang belajar antargenerasi. Anak-anak tidak sekadar mengikuti orang tuanya ke pantai, tetapi juga mempelajari cara menghargai alam, mengenali ekosistem pesisir, dan memahami bahwa sumber daya alam harus dimanfaatkan secara bijaksana agar tetap lestari. Nilai-nilai seperti ini justru menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.

Sayangnya, berbagai tradisi lokal seperti meti-meti sering kali luput dari perhatian. Pembangunan lebih banyak berorientasi pada aspek fisik, sementara pelestarian pengetahuan lokal belum menjadi prioritas. Padahal, di tengah ancaman perubahan iklim, kerusakan ekosistem pesisir, dan menurunnya keanekaragaman hayati, masyarakat adat dan komunitas lokal justru menyimpan praktik-praktik yang dapat menjadi inspirasi bagi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Dalam konteks ini, dokumentasi yang dilakukan oleh Melani Fatikan, mahasiswa Program Studi Manajemen dan Penilaian Properti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melalui program KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026, menjadi langkah yang patut diapresiasi. Dokumentasi tersebut tidak hanya merekam sebuah aktivitas masyarakat, tetapi juga mengangkat nilai budaya yang selama ini hidup dan berkembang di tengah komunitas pesisir. Upaya seperti ini penting agar tradisi lokal tidak hilang bersama pergantian generasi.

Lebih jauh lagi, meti-meti memiliki potensi untuk dikenalkan sebagai bagian dari identitas budaya Desa Batu Jaya. Apabila dikelola secara tepat, tradisi ini dapat menjadi daya tarik wisata berbasis budaya dan edukasi tanpa menghilangkan nilai autentiknya. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan pesisir, tetapi juga belajar mengenai hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah dijaga masyarakat setempat selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, kemajuan tidak seharusnya dimaknai sebagai proses meninggalkan tradisi. Justru, pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang mampu memadukan inovasi dengan kearifan lokal. Tradisi meti-meti membuktikan bahwa masyarakat pesisir telah memiliki pengetahuan ekologis yang relevan hingga hari ini. Menjaga tradisi ini berarti menjaga identitas budaya, memperkuat ketahanan pangan masyarakat, sekaligus merawat hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Di tengah dunia yang semakin modern, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar teknologi yang lebih canggih, melainkan kebijaksanaan untuk kembali belajar dari tradisi yang telah lama mengajarkan cara hidup berdampingan dengan alam.(*)