Opini

Sekali Sepekan, Lawan Pasang Surut Laut – Pengalaman Pertama Tim Kkn Ugm Pesonamu Belanja Di Pasar Langgapulu

756
×

Sekali Sepekan, Lawan Pasang Surut Laut – Pengalaman Pertama Tim Kkn Ugm Pesonamu Belanja Di Pasar Langgapulu

Share this article

 

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan  — Belum genap 24 jam Tim KKN-PPM UGM Pesonamu tiba di Desa Namu dan Desa Batujaya, Konawe Selatan, Kepala Desa sudah punya pelajaran pertama untuk mereka. Dan pelajaran itu tidak datang dari ruang rapat atau sesi perkenalan formal, melainkan dari sebuah rutinitas sederhana yang sudah bertahun-tahun mengatur irama kehidupan warga di dua desa ini.

Tepat di hari Kamis, 25 Juni 2026, warga menyebutnya “hari pasar.” Dua kata yang terdengar biasa, tapi maknanya jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Sebab hanya di hari inilah, sekali dalam sepekan, warga Desa Namu dan Batujaya bisa berbelanja kebutuhan pokok. Tidak ada warung lengkap, tidak ada minimarket, tidak ada pilihan lain. Kamis adalah satu-satunya kesempatan, dan tidak ada yang boleh dilewatkan.

Subuh, Kapal, dan Laut yang belum sepenuhnya Terang

Belum pukul 05.00 WITA, tim sudah bergerak menuju dermaga Dusun 2, Desa Namu. Pagi masih gelap, udara masih dingin, tapi dermaga sudah ramai. Warga berdatangan dengan tas-tas kosong yang siap diisi, dan Tim Pesonamu ikut di antara mereka. 25 mahasiswa UGM dari Yogyakarta yang KKN di Desa Namu dan Batu Jaya yang baru kemarin malam tiba, kini sudah berjalan ke dermaga siap untuk belanja ke pasar. Tim KKN UGM Unit SG 004 yang dibimbing langsung oleh ibu Dra. Eko Tri Sulistyani, M. Sc. dari Fisika MIPA UGM serentak ke pasar dikawal Kepala Desa  Namu, bapak Nikson, S.Si.

Pasar Langgapulu menjadi tujuan kegiatan pagi ini terletak di Desa Langgapulu, menyeberangi laut sekitar 45 menit. Lebih cepat kalau ombak bersahabat, lebih lama kalau tidak. Di sinilah Tim Pesonamu pertama kali benar-benar merasakan apa artinya tinggal di desa yang dikelilingi laut, bukan sebagai pemandangan, tapi sebagai jalan satu-satunya menuju kebutuhan hidup.

Pasar yang Lebih dari Sekadar Tempat Belanja

Sesampainya di Pasar Langgapulu, suasana langsung hidup. Lapak-lapak berjejer rapat, pedagang menyapa, dan aroma masakan pagi menguar di udara. Di sana tersedia hampir semua yang dibutuhkan: sayur mayur segar, beras, telur, bumbu dapur, sabun, alat makan, pakaian, hingga aneka makanan. Bagi warga Desa Namu dan Batujaya, Pasar Langgapulu bukan sekadar tempat transaksi — ia adalah pusat kehidupan, satu-satunya yang bisa dijangkau, dan hanya buka efektif sekali dalam sepekan.

Langkah pertama Tim Pesonamu setelah turun dari kapal? Bukan mencari sayur, bukan pula beras. Perut kosong sejak subuh bicara lebih keras dari catatan belanjaan. Mata tim langsung tertuju pada lapak yang mengepulkan uap hangat — bakso dan mie ayam. Di Desa Langgapulu, mie ayam punya sebutan yang berbeda: pangsit. Semangkuk pangsit dan bakso pagi itu terasa seperti hadiah kecil setelah perjalanan subuh di atas kapal.

Setelah perut terisi dan tenaga kembali, barulah tim berpencar. Sayur, telur dan beras merupakan belanjaan mingguan yang harus cukup untuk dua puluh lima orang selama tujuh hari ke depan. Tidak sedikit, tidak ringan, tapi harus selesai dalam waktu yang sangat terbatas.

Berpacu dengan Pasang Surut

Dan di sinilah aturan tak tertulis yang paling penting berlaku: semua harus beres sebelum pukul 09.00 WITA.

Bukan karena pasar tutup. Tapi karena setelah jam itu, air laut mulai surut. Kapal tidak lagi bisa bersandar dengan mudah di dermaga. Keterlambatan bukan soal jadwal meleset — ia bisa berarti tertinggal dan tidak bisa pulang hari itu. Maka belanja di Pasar Langgapulu pun berubah menjadi sebuah perlombaan kecil yang sangat serius: melawan waktu, sekaligus melawan pasang surut laut yang tidak menunggu siapa pun.

Tim Pesonamu belajar itu dengan cepat. Belanjaan tuntas sebelum jam sembilan, tas-tas penuh dibawa ke dermaga, dan kapal kembali berlayar menuju Desa Namu. Perjalanan pulang sekitar 45 menit, kali ini dengan tangan yang jauh lebih berat tapi hati yang jauh lebih kaya dari berangkatnya.

Pelajaran yang Tidak Ada di Buku Kuliah

Kepala Desa Namu, Nikson, sudah lama tahu bahwa pengalaman ke pasar adalah salah satu cara terbaik untuk memperkenalkan desa kepada siapa pun yang baru datang. Bukan dengan ceramah, bukan dengan data tapi dengan ikut merasakannya sendiri.

“Dengan kalian ikut ke pasar, kalian bisa merasakan sendiri bagaimana perjuangan warga Namu dan Batujaya setiap minggunya. Untuk mendapatkan kebutuhan pokok saja, mereka harus rela menempuh jarak dan waktu yang tidak sebentar. Itulah keseharian kami,” ujar Nikson.

Kalimat itu sederhana, tapi beratnya terasa. Bagi warga Namu dan Batujaya, perjalanan subuh ke Pasar Langgapulu bukan pengalaman eksotis atau petualangan — ia adalah kenyataan hidup yang dijalani setiap Kamis, tanpa libur, tanpa pengecualian. Kalau ombak tinggi, tetap berangkat. Kalau hujan, tetap berangkat. Karena kalau tidak, tidak ada yang bisa dimasak untuk seminggu ke depan.

Bagi Tim KKN-PPM UGM SG 004, Pesonamu, hari Kamis pertama itu meninggalkan sesuatu yang tidak akan mudah terlupakan. Mereka datang ke Konawe Selatan dengan bekal ilmu dari berbagai disiplin, dengan program-program yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Tapi pelajaran paling pertama justru datang dari sebuah perjalanan kapal di pagi buta, semangkuk pangsit yang menghangatkan, dan perlombaan kecil melawan air laut yang mulai surut.

Memahami masyarakat tidak bisa hanya dari laporan atau literatur. Kadang, ia harus dimulai dari ikut bangun sebelum fajar, berdiri di dermaga yang masih gelap, dan pulang dengan perahu penuh belanjaan, persis seperti yang dilakukan warga Namu dan Batujaya setiap minggunya.(*AN)

 

Editor:NZ