Pendidikan

Dari “Ni Hao”, Anak-Anak Batu Jaya Mulai Kenal Bahasa Mandarin

162
×

Dari “Ni Hao”, Anak-Anak Batu Jaya Mulai Kenal Bahasa Mandarin

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Sapaan “nǐ hǎo” terdengar dari anak-anak Desa Batu Jaya, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, ketika mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan Bahasa Mandarin dasar.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengajaran Bahasa Mandarin yang digagas dan dipimpin Delaney Violet Oey, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.

Program dirancang sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengenal bahasa asing sekaligus memperluas wawasan mengenai keberagaman bahasa dan budaya.

Sebelum pembelajaran dimulai, mahasiswa melakukan observasi untuk memahami rentang usia siswa, kebiasaan belajar, kondisi kelas, dan materi yang sesuai.

Materi awal dibuat sederhana. Anak-anak diperkenalkan dengan sapaan, cara menanyakan nama, menjawab nama, hingga memperkenalkan diri.

Mahasiswa memberikan contoh pengucapan terlebih dahulu sebelum peserta mengulanginya bersama-sama. Setelah mulai terbiasa, anak-anak mencoba menggunakan ungkapan tersebut untuk saling menyapa dan memperkenalkan diri.

Salah satu peserta, Imel, mengaku pembelajaran tersebut menjadi pengalaman baru yang menarik.

“Awalnya agak susah mengucapkannya, tapi setelah diulang-ulang jadi lebih mudah. Saya senang karena sebelumnya belum pernah belajar Bahasa Mandarin. Sekarang saya jadi tahu cara bilang ‘nǐ hǎo’ dan memperkenalkan nama,” ujarnya.

Agar pembelajaran tidak terasa kaku, kegiatan dikemas melalui tanya jawab, pengulangan, permainan sederhana, dan praktik langsung. Anak-anak juga didorong untuk berani mencoba meski masih melakukan kesalahan pengucapan.

Program ini menjadi bagian dari KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 Unit SG004 Konawe Selatan Sub Unit Batu Jaya di bawah pendampingan Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., selaku Dosen Pembimbing Lapangan.

Melalui pengenalan bahasa asing tersebut, mahasiswa tidak menargetkan anak-anak langsung menguasai Bahasa Mandarin. Pengalaman mendengar, mengucapkan, dan menggunakan bahasa lain menjadi langkah awal untuk menumbuhkan keberanian serta rasa ingin tahu terhadap bahasa dan budaya yang lebih luas.(*)

 

Editor:NZ