Pendidikan

Dari Lipatan Kain Jadi Karya, Anak-Anak Desa Namu Antusias Membuat Totebag Shibori

293
×

Dari Lipatan Kain Jadi Karya, Anak-Anak Desa Namu Antusias Membuat Totebag Shibori

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Selembar kain polos, beberapa lipatan, ikatan, dan warna. Di tangan anak-anak Dusun 1, Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, bahan-bahan sederhana itu berubah menjadi karya totebag dengan motif unik yang lahir dari kreativitas mereka sendiri.

Sebanyak 11 anak mengikuti kegiatan membuat dan menghias totebag menggunakan teknik shibori yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN-PPM UGM Konawe Selatan 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc.

Kegiatan ini menghadirkan ruang belajar yang berbeda bagi anak-anak. Tidak hanya mengenal sebuah teknik menghias kain, mereka juga diajak bereksperimen, berkreasi, dan berani mencoba menghasilkan karya dari tangan sendiri.

Shibori merupakan teknik menghias kain yang dilakukan dengan memberikan perlakuan tertentu, seperti melipat dan mengikat kain sebelum proses pewarnaan.

Bagian kain yang tertutup oleh lipatan dan ikatan akan menghasilkan pola yang berbeda setelah pewarnaan selesai. Keunikan teknik ini terletak pada hasil akhirnya yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.

Sebelum memulai praktik, anak-anak terlebih dahulu diperkenalkan dengan teknik dasar shibori serta tahapan pembuatannya. Setelah memahami proses tersebut, mereka mulai melipat dan mengikat bagian-bagian totebag sesuai dengan pola yang ingin mereka ciptakan.

Suasana pun semakin ramai ketika proses pewarnaan dimulai. Anak-anak tampak antusias melihat kain yang perlahan berubah warna. Rasa penasaran semakin besar karena mereka belum mengetahui motif seperti apa yang akan muncul setelah ikatan dibuka.

Setelah proses pewarnaan selesai, totebag dijemur hingga kering. Tahap berikutnya menjadi momen yang paling dinantikan: membuka satu per satu ikatan untuk melihat pola yang selama ini tersembunyi di balik lipatan kain.

Hasilnya, setiap totebag menampilkan motif yang berbeda.

Meski menggunakan bahan dan teknik yang hampir sama, tidak ada dua karya yang benar-benar serupa. Perbedaan cara melipat, mengikat, serta penyerapan warna membuat setiap totebag memiliki karakter tersendiri.

Bagi Cici, salah satu peserta yang duduk di kelas 1 SMP, proses tersebut menjadi pengalaman yang menarik.

“Awalnya penasaran bakal jadi seperti apa. Ternyata setelah dibuka, hasilnya bagus dan prosesnya juga unik,” ujar Cici, 2 Juli 2026.

Kegiatan membuat totebag dengan teknik shibori menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas dengan metode yang formal.

Melalui kegiatan sederhana dan menyenangkan, anak-anak Desa Namu memperoleh pengalaman baru tentang seni menghias kain. Mereka belajar mengenal bentuk, mencoba berbagai lipatan, memadukan warna, hingga melihat bagaimana sebuah proses dapat menghasilkan karya yang tidak terduga.

Lebih dari sekadar membuat totebag bermotif menarik, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar tentang kreativitas dan keberanian dalam mencoba.

Setiap lipatan yang dibuat menjadi bagian dari proses. Setiap ikatan menyimpan kemungkinan. Dan setiap warna yang dituangkan menghadirkan kejutan tersendiri ketika karya akhirnya dibuka.

Dari selembar kain polos, lahirlah karya-karya sederhana yang tidak hanya dapat digunakan, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses pembuatannya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN-PPM UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Melalui pembelajaran kreatif berbasis praktik, kegiatan ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Pengenalan keterampilan membuat kerajinan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa KKN-PPM UGM, Dosen Pembimbing Lapangan, pemerintah desa, dan masyarakat mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam menciptakan ruang belajar yang edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak.

Pada akhirnya, kreativitas tidak berhenti ketika sebuah totebag selesai dibuat.

Pengalaman melipat, mengikat, mewarnai, dan menunggu hasil akhir menjadi pelajaran tersendiri bagi anak-anak Dusun 1 Desa Namu. Bahwa dari sesuatu yang sederhana, karya yang bermakna dapat lahir ketika ada kesempatan untuk mencoba, berproses, dan mengembangkan kreativitas.

Dari lipatan kain menjadi sebuah karya, anak-anak Desa Namu pun membawa pulang lebih dari sekadar totebag—mereka membawa pengalaman baru dan keyakinan bahwa tangan mereka juga mampu menciptakan sesuatu yang unik.(*)

 

Editor:NZ