Pendidikan

Dari Iqra hingga Kisah Nabi, KKN-PPM UGM Tumbuhkan Semangat Mengaji Anak Desa Namu

203
×

Dari Iqra hingga Kisah Nabi, KKN-PPM UGM Tumbuhkan Semangat Mengaji Anak Desa Namu

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Suara anak-anak membaca Iqra bergantian terdengar di sore hari. Di antara lantunan doa, lagu-lagu islami, dan cerita tentang para nabi, tumbuh pula semangat belajar yang perlahan menjadi rutinitas menyenangkan bagi anak-anak di Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan.

Selama kurang lebih lima minggu, mahasiswa KKN-PPM UGM Konawe Selatan 2026 hadir mendampingi anak-anak Desa Namu dalam kegiatan mengaji yang dilaksanakan rutin setiap Senin, Kamis, dan Jumat. Kegiatan tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc.

Tidak sekadar mengajarkan cara membaca Iqra, kegiatan ini dikemas dalam suasana yang interaktif dan penuh keceriaan. Anak-anak diajak belajar, bermain, bernyanyi, mendengarkan cerita, sekaligus membangun kebersamaan dengan mahasiswa KKN.

Setiap pertemuan diawali dengan pelaksanaan sholat Ashar berjamaah. Setelah itu, anak-anak dan mahasiswa KKN berkumpul membentuk lingkaran untuk membaca doa bersama sebelum memulai kegiatan mengaji.

Satu per satu anak maju membaca Iqra sesuai dengan tingkatan masing-masing. Mahasiswa KKN mendampingi dan membantu membenarkan bacaan, terutama ketika anak-anak menemukan huruf atau pelafalan yang masih sulit.

Perbedaan kemampuan membaca tidak menjadi hambatan. Suasana belajar tetap berlangsung santai dan penuh dukungan. Perlahan, anak-anak mulai terbiasa datang, duduk bersama, dan mengikuti kegiatan mengaji secara rutin.

Keceriaan semakin terasa setelah sesi mengaji selesai. Anak-anak kembali berkumpul dalam lingkaran untuk menyanyikan lagu-lagu islami. Gerakan-gerakan sederhana yang mengikuti lagu membuat suasana sore menjadi semakin hidup.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan tersebut menjadi cara untuk menghadirkan pengalaman belajar yang tidak kaku. Bagi anak-anak, mengaji pun tidak hanya identik dengan duduk dan membaca, tetapi juga menjadi ruang untuk bermain, tertawa, dan berinteraksi.

Selain mengaji dan bernyanyi, setiap pertemuan juga diisi dengan cerita tentang kisah para nabi. Cerita disampaikan menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Mahasiswa sesekali mengajukan pertanyaan di tengah cerita untuk mengajak anak-anak berinteraksi. Anak-anak tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai aktif bertanya, memberikan tanggapan, bahkan menceritakan kembali bagian-bagian yang masih mereka ingat.

Melalui kisah-kisah tersebut, mereka diajak mengenal nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, keberanian, ketaatan, dan pentingnya tetap berbuat baik dalam menghadapi berbagai tantangan.

Kegiatan sederhana ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penyediaan ruang belajar nonformal yang membantu meningkatkan kemampuan membaca Iqra sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter.

Selain itu, kegiatan tersebut mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN, masyarakat, dan anak-anak Desa Namu dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Seiring waktu, kegiatan yang semula menjadi bagian dari agenda KKN perlahan tumbuh menjadi rutinitas yang dinantikan anak-anak.

Salah satunya dirasakan oleh Asma, seorang anak yang aktif mengikuti kegiatan mengaji. Menjelang berakhirnya masa pengabdian mahasiswa KKN, Asma mengungkapkan rasa sayangnya terhadap kebersamaan yang telah terjalin.

“Nanti kalau Kakak-Kakak KKN sudah pulang, Asma pasti rindu belajar ngaji,” ujar Asma.

Ucapan sederhana itu menjadi salah satu momen yang membekas bagi mahasiswa KKN. Dalam waktu lima minggu, pertemuan-pertemuan sederhana telah menciptakan kedekatan yang lebih dari sekadar hubungan antara pengajar dan peserta belajar.

Ada kebiasaan kecil yang tumbuh dari setiap pertemuan: anak-anak yang datang untuk belajar, suara bacaan Iqra yang terdengar bergantian, lagu-lagu islami yang dinyanyikan bersama, serta cerita para nabi yang menutup sore dengan pesan-pesan kebaikan.

Lima minggu mungkin terasa singkat. Namun, dari waktu yang singkat itu, tumbuh semangat belajar, kebiasaan mengaji, dan kenangan yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan KKN-PPM UGM Konawe Selatan 2026 di Desa Namu.(*)

 

Editor:NZ