Pendidikan

Dari Sisa Dapur Jadi Manfaat, KKN-PPM UGM Ajak Ibu PKK Batu Jaya Olah Limbah Organik Menjadi Eco-Enzyme

334
×

Dari Sisa Dapur Jadi Manfaat, KKN-PPM UGM Ajak Ibu PKK Batu Jaya Olah Limbah Organik Menjadi Eco-Enzyme

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Aktivitas memasak di dapur sering kali menyisakan berbagai limbah organik, mulai dari kulit buah hingga potongan sayuran. Jika biasanya langsung dibuang, sisa bahan tersebut ternyata masih dapat dimanfaatkan melalui pengolahan sederhana menjadi Eco-enzyme.

Gagasan itulah yang diangkat Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun 2026 Unit SG004 Konawe Selatan melalui kegiatan Pelatihan Pembuatan Eco-Enzyme dari Limbah Organik Rumah Tangga di Desa Batu Jaya, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan pengelolaan limbah organik yang dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Salah satu mahasiswa yang turut berkontribusi dalam pelaksanaan program adalah Cornellius Hans Lazuardi, mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM.

Pelaksanaan kegiatan berada di bawah pendampingan Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., dosen FMIPA UGM selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Pelatihan menyasar ibu-ibu PKK Desa Batu Jaya dan dilaksanakan setelah kegiatan memasak bersama di balai desa.

Pemilihan waktu tersebut bukan tanpa alasan. Limbah organik yang baru dihasilkan dari aktivitas memasak, seperti kulit buah dan sisa sayuran, langsung dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak melihat secara langsung bahwa limbah dapur tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan sampah.

Tim KKN-PPM UGM memperkenalkan konsep dasar eco-enzyme serta bahan-bahan yang diperlukan dalam proses pembuatannya. Limbah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran dimanfaatkan melalui proses fermentasi dengan bahan pendukung berupa gula dan air.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pembuatan, cara penyimpanan, hingga pentingnya memperhatikan proses fermentasi sebelum hasil olahan digunakan.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Ibu-ibu PKK aktif mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari jenis limbah yang dapat digunakan, lama proses fermentasi, hingga pemanfaatan cairan yang dihasilkan.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi peserta untuk menghubungkan materi pelatihan dengan kebiasaan pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan di rumah masing-masing.

“ Selama ini limbah dari dapur biasanya langsung dibuang. Kalau ternyata masih bisa dimanfaatkan seperti ini, tentu akan lebih baik kalau masyarakat mulai memilahnya sejak dari rumah,” ujar Ibu Immel, salah satu warga Desa Batu Jaya.(2/8/2026)

Menurutnya, pemanfaatan limbah organik dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mulai lebih memperhatikan sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada konsep sederhana bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat dipisahkan dan diolah sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah yang dibuang.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai pembuatan eco-enzyme, tetapi juga diharapkan dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Penerapan secara konsisten di tingkat rumah tangga dinilai dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengurangan limbah organik.

Bagi Hans dan Tim KKN-PPM UGM Unit SG004 Konawe Selatan, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian yang menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisa aktivitas memasak yang sederhana, masyarakat Desa Batu Jaya diajak melihat bahwa limbah organik tidak semata-mata menjadi sesuatu yang harus dibuang. Dengan pengelolaan yang tepat, sisa dari dapur dapat menjadi bahan yang masih memiliki nilai dan manfaat.(*)

Editor:NZ

Melalui langkah kecil tersebut, Tim KKN-PPM UGM berharap kesadaran untuk memilah dan mengelola limbah dapat tumbuh dari rumah, kemudian berkembang menjadi kebiasaan bersama dalam menjaga lingkungan Desa Batu Jaya.