NewsMetro

Hari Ke-3 Pascabanjir Kendari, Lazis Muadz Salurkan Bantuan di Lima Titik Terdampak

116
×

Hari Ke-3 Pascabanjir Kendari, Lazis Muadz Salurkan Bantuan di Lima Titik Terdampak

Share this article

TERAMEDIA.ID,KENDARI-Memasuki hari ketiga pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari, Lazis Muadz Kembali  menyalurkan bantuan makanan siap santap kepada warga terdampak banjir dan para pengungsi, Selasa (12/5/2026). Penyaluran bantuan dilakukan di lima titik yang masih mengalami dampak cukup parah akibat genangan air dan lumpur.

Lima titik penyaluran bantuan tersebut meliputi Lorong Pelangi, Lorong Pahala, Pasar Panjang, Kampung Makasar, dan kawasan Lepo-Lepo. Bantuan yang disalurkan berupa nasi kotak dan kebutuhan konsumsi harian bagi warga yang hingga kini masih terdampak banjir.

Sejak hari pertama banjir yang terjadi pada Ahad, 10 Mei 2026, Lazis Muadz telah mendirikan dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan makanan masyarakat terdampak. Setiap harinya, relawan menyiapkan sekitar 400 porsi makanan siap santap yang disalurkan ke berbagai titik banjir dan pengungsian sesuai kebutuhan warga di lapangan. Jumlah tersebut dapat berubah menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat terdampak.

Selain wilayah Wanggu yang terdampak cukup parah dan telah terdapat dua dapur umum besar dari Dinas Sosial dan Brimob serta bantuan dari berbagai lembaga lainnya, tim Lazis Muadz memilih fokus mencari titik-titik lain yang belum banyak tersentuh bantuan agar distribusi bantuan dapat lebih merata.

Selain menyalurkan makanan siap santap, relawan juga terus melakukan assessment ke berbagai titik terdampak untuk memastikan kondisi warga dan kebutuhan di lapangan. Tim relawan mendatangi langsung kawasan permukiman yang masih tergenang untuk memetakan kondisi serta memastikan bantuan menjangkau warga yang membutuhkan.

Berdasarkan hasil assessment di lapangan, beberapa wilayah di Kota Kendari masih mengalami genangan air dengan volume cukup tinggi. Kondisi tersebut disebabkan debit air sungai yang masih tinggi sehingga air di permukiman warga belum dapat mengalir dengan normal ke aliran sungai.

Salah satu wilayah yang masih mengalami kondisi cukup berat adalah Lorong Kawat. Di kawasan tersebut, warga bahkan menyewa mesin alkon untuk menguras air dari rumah dan lingkungan sekitar agar dipindahkan ke sungai. Posisi permukiman yang lebih rendah dibanding permukaan sungai menyebabkan air sulit surut secara alami.

Warga setempat menyebut sistem buka-tutup tanggul yang diterapkan selama banjir cukup membantu mengurangi tingginya debit air yang masuk ke kawasan permukiman. Selama banjir berlangsung, pintu tanggul ditutup untuk menahan luapan air sungai agar tidak semakin memperparah kondisi rumah warga.**