MetroNewsPariwisataUncategorized

Tenun Kendari Menjadi Simbol Fashion Lokal yang Mendunia

7
×

Tenun Kendari Menjadi Simbol Fashion Lokal yang Mendunia

Share this article

TERAMEDIA.ID,KENDARI – Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan industri mode dunia, kain tenun tradisional Sulawesi Tenggara tetap tegak berdiri sebagai simbol warisan budaya yang penuh makna. Kota Kendari kini menjelma menjadi salah satu pusat pertumbuhan fashion lokal yang berhasil memadukan nilai tradisional dengan inovasi modern. Dari kain tenun yang dihasilkan oleh tangan-tangan pengrajin lokal hingga desain busana modern berkelas nasional, sektor fashion Kendari semakin menunjukkan identitas kuat sebagai wajah baru ekonomi kreatif daerah.

Kain tenun yang dahulu hanya digunakan pada acara adat kini tampil memukau di berbagai panggung fashion nasional dan internasional. Para desainer dan pengrajin muda di Kendari terus berinovasi, mengubah lembaran kain tradisional menjadi karya mode yang bernilai tinggi. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga memperkenalkan kisah budaya dan kearifan lokal kepada dunia.

Sektor Fashion: Motor Penggerak Ekonomi Kreatif

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kendari, Hermawaty, ST., MT, menyebut bahwa sektor fashion merupakan salah satu subsektor paling potensial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.

“Fashion lokal Kendari bukan hanya produk ekonomi, tetapi juga ekspresi budaya. Kami ingin pelaku kreatif mampu mengangkat nilai-nilai tradisional menjadi karya yang bernilai jual tinggi dan berdaya saing,” ujarnya.

plt. Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kendari, Hermawaty

Menurut Hermawaty, pengembangan fashion lokal menjadi prioritas karena mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjaga eksistensi budaya daerah di tengah modernisasi. Pemerintah Kota Kendari juga berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dengan memberikan pelatihan, promosi, dan fasilitasi akses pembiayaan kepada pelaku usaha.

 

Pendampingan dan Pembinaan Berkelanjutan

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Ilham Abidin, menambahkan bahwa pemerintah menjalankan strategi pembinaan berkelanjutan bagi para pelaku usaha fashion.

“Kami mulai dengan pendataan pelaku, lalu melakukan monitoring dan evaluasi. Selanjutnya, mereka kami ikutsertakan dalam berbagai pelatihan, studi kreatif, dan pameran baik di dalam maupun di luar daerah,” jelasnya.

Pembinaan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan keterampilan desain, manajemen usaha, digital marketing, hingga pemahaman tentang hak kekayaan intelektual (HAKI). Upaya tersebut bertujuan agar pelaku fashion tidak hanya memproduksi barang berkualitas, tetapi juga memahami pentingnya branding dan inovasi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Kecamatan Sebagai Pusat Kreativitas Lokal

Beberapa kecamatan di Kota Kendari kini berkembang menjadi sentra fashion yang produktif. Di Kecamatan Kadia, terdapat Lily Tenun, Asri Tenun, dan Juwita Silk yang menjadi pelopor pelestarian kain khas Sulawesi Tenggara. Lily Tenun bahkan mencatat omzet hingga Rp100 juta per bulan, menjadi contoh nyata keberhasilan perpaduan antara tradisi dan modernitas.

Di Kecamatan Kendari Barat, Asma Tenun Manual memberdayakan masyarakat lokal untuk menjadi pengrajin tenun adat, sementara Bougiss Lucky menghadirkan desain kontemporer dengan sentuhan khas daerah.

Kecamatan Mandonga juga memainkan peran penting dalam perkembangan fashion Kendari. Kehadiran CV. Amir Malik Desainer dan Galeri Sultra Tenun & Tourism menjadikan wilayah ini pusat kreativitas yang memadukan estetika modern dengan nilai budaya lokal.

Di Poasia, King Tenun menjadi penopang utama pelestarian teknik tenun tradisional yang diwariskan turun-temurun, sedangkan di Puuwatu, Rumah Laikanggu mencuri perhatian dengan produksi pakaian adat, payung tradisional, dan suvenir khas yang mencerminkan kekayaan budaya daerah. Usaha ini bahkan mencatat omzet mencapai Rp800 juta per bulan, menggambarkan besarnya potensi ekonomi sektor fashion berbasis budaya di Kendari.

Legalitas dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Kesadaran pelaku fashion terhadap pentingnya legalitas usaha terus meningkat. Lily Tenun dan Rumah Laikanggu telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi HAKI sebagai bentuk perlindungan terhadap karya dan desain yang mereka hasilkan. Namun, masih ada pelaku lain seperti Asma Tenun Manual yang perlu didorong untuk segera melengkapi perizinan.

Menurut Ilham Abidin, legalitas bukan hanya formalitas administratif, melainkan fondasi penting untuk memperluas pasar dan mendapatkan akses ke berbagai program pemerintah. “Kami mendorong seluruh pelaku fashion agar legalitasnya lengkap. Dengan begitu, mereka bisa berpartisipasi dalam event nasional dan menjalin kemitraan dengan pelaku industri di luar daerah,” ungkapnya.

Pameran dan Promosi Digital sebagai Kunci Ekspansi

Salah satu strategi utama pemerintah adalah memperluas pasar melalui pameran dan promosi digital. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif aktif mengikutsertakan pelaku fashion Kendari dalam berbagai event seperti Sultra Creative Expo, Festival Tenun Nusantara, dan Inacraft.

“Kami ingin pelaku fashion tidak hanya fokus memproduksi, tapi juga berani tampil dan memasarkan produknya dengan percaya diri. Karya mereka punya nilai budaya tinggi dan berpotensi menembus pasar nasional,” ujar Ilham.

Selain itu, pemerintah juga mendorong kolaborasi antara desainer lokal dan pelaku e-commerce. Digitalisasi menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan tenun Kendari ke kancah global. Kini, banyak produk lokal yang sudah dipasarkan melalui platform daring seperti Tokopedia, Shopee, dan media sosial, menjangkau pembeli dari luar negeri.

Generasi Muda dan Inovasi Mode Lokal

Salah satu pengrajin muda, Lily, mengaku optimistis terhadap masa depan fashion Kendari.

“Dulu kain tenun dianggap kuno, tapi sekarang justru dicari karena punya karakter kuat. Kami ingin menjadikan tenun Kendari bagian dari gaya hidup modern,” ujarnya.

Para desainer muda di Kendari kini berani bereksperimen dengan warna, motif, dan bentuk. Mereka menciptakan busana kasual, formal, hingga haute couture berbahan tenun yang tampil elegan tanpa meninggalkan ciri khas lokal. Kolaborasi dengan influencer dan model nasional juga menjadi bagian dari strategi promosi kreatif yang berhasil menarik perhatian publik.

Menjahit Masa Depan Fashion Kendari

Dengan dukungan pemerintah daerah, kolaborasi antar-desainer, dan promosi digital yang berkelanjutan, fashion Kendari berpotensi menjadi ikon baru ekonomi kreatif Sulawesi Tenggara. Tenun bukan lagi sekadar simbol masa lalu, tetapi telah bertransformasi menjadi representasi masa depan — sebuah warisan yang hidup dan terus berkembang.

Dari benang-benang yang ditenun dengan penuh kesabaran hingga menjadi busana berkelas dunia, kisah sukses para pelaku fashion Kendari menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas. Di tangan para pengrajin dan desainer kreatif, Enun Kendari kini benar-benar menjelma menjadi simbol fashion lokal yang mendunia, memadukan keanggunan budaya dan kekuatan inovasi dalam satu jalinan indah yang membawa nama Kendari ke panggung global.*(red-Adv)

editor:DN

11 Pejabat Berebut 4 Kursi Kepala OPD, Pemkot Kendari Uji Visi dan Integritas Kandidat KENDARI – Persaingan menuju kursi pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kota Kendari mulai mengerucut. Sebanyak 11 pejabat mengikuti seleksi untuk mengisi empat jabatan strategis yang selama ini masih lowong. Seleksi tersebut tidak hanya menjadi ajang adu rekam jejak, tetapi juga panggung bagi para kandidat untuk memaparkan visi kepemimpinan mereka. Tahapan wawancara yang digelar Kamis (9/4/2026) dipimpin langsung Sekretaris Daerah Kota Kendari, Amir Hasan, di ruang rapat Sekda. Empat posisi yang diperebutkan yakni Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah, serta Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Di posisi BKAD, tiga nama yang bersaing adalah La Ode Marfin Nurjan, Inand Irojasa, dan Ivan Eka Hadianto Maasy. Sementara pada kursi Kepala Dinas PUPR, kandidat yang bertarung yakni Ivan Eka Hadianto Maasy, Muhammad Jayadi, dan Muhammad Azwar Kurdin. Untuk Badan Riset dan Inovasi Daerah, peserta seleksi terdiri dari Seko Kaimuddin Haris, Zulkarnaim, dan Santiwati. Sedangkan jabatan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah diikuti oleh Rukmana, Machlil Rusmin, dan Eni Misni Arwati. Kepala BKPSDM Kota Kendari, Alfian, Jumat (10/4/2026) menyebutkan, seluruh peserta yang kini mengikuti wawancara telah melewati tahapan administrasi dan uji kompetensi. Artinya, kandidat yang tersisa merupakan figur-figur yang dinilai layak secara awal untuk menduduki jabatan pimpinan tinggi pratama. Dalam proses wawancara, panel penguji menggali lebih dalam kemampuan manajerial, pengalaman birokrasi, hingga gagasan strategis yang ditawarkan masing-masing peserta. Pendekatan ini menjadi bagian dari penerapan manajemen talenta yang mulai diperkuat di lingkup Pemkot Kendari. Amir Hasan menegaskan, seleksi ini bukan sekadar mengisi kekosongan jabatan, tetapi memastikan roda pemerintahan dijalankan oleh figur yang tepat. “Kita ingin memastikan setiap kandidat tidak hanya memenuhi syarat administratif, tetapi juga punya visi yang jelas, integritas, dan komitmen terhadap pelayanan publik,” ujarnya. Menurutnya, sistem manajemen talenta menjadi instrumen penting untuk menciptakan birokrasi yang lebih profesional dan berbasis kinerja. Melalui sistem ini, promosi jabatan dilakukan secara lebih objektif dan transparan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Kendari membangun kultur kerja yang kompetitif di kalangan aparatur sipil negara. Setiap ASN didorong untuk terus meningkatkan kapasitas diri karena peluang menduduki jabatan terbuka berdasarkan kemampuan. Dengan seleksi yang ketat, pemerintah berharap pejabat yang terpilih nantinya mampu langsung bekerja dan memberikan dampak nyata, terutama dalam mendorong percepatan pembangunan serta peningkatan kualitas layanan publik di Kota Kendari.
News