Feature

Pe’a Loa: Ketika Doa, Gotong Royong, dan Silaturahmi Sebagai Pemersatu

432
×

Pe’a Loa: Ketika Doa, Gotong Royong, dan Silaturahmi Sebagai Pemersatu

Share this article

TERAMEDIA.ID,  Konawe Selatan – Sejak matahari belum tinggi, dapur-dapur di Desa Batu Jaya, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, sudah dipenuhi kesibukan. Asap mengepul dari tungku, aroma ikan bakar bercampur dengan masakan hasil laut memenuhi udara, sementara suara percakapan dan tawa para ibu saling bersahutan. Di sudut lain, para lelaki menata tempat acara, sedangkan anak-anak dan remaja ikut membantu sesuai kemampuan mereka. Tidak ada undangan resmi yang memanggil mereka datang. Kehadiran itu lahir dari satu ikatan yang telah lama mengakar: kebersamaan.

Hari itu masyarakat tengah mempersiapkan Pe’a Loa, tradisi masyarakat Suku Tolaki yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini merupakan doa bersama untuk mengenang sekaligus mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, salah satunya pada peringatan hari ke-40 setelah wafat. Namun, bagi masyarakat Batu Jaya, Pe’a Loa bukan sekadar rangkaian ritual keagamaan. Tradisi ini juga menjadi ruang bertemunya keluarga, kerabat, dan warga dalam semangat gotong royong yang masih terpelihara hingga kini.

Seluruh persiapan dilakukan bersama. Kaum ibu bergotong royong memasak beragam hidangan khas, mulai dari ikan bakar, aneka olahan hasil laut, sayur, hingga menu tradisional yang akan disajikan kepada para tamu. Sementara itu, anggota keluarga lainnya menyambut warga yang datang membantu, menata perlengkapan, dan memastikan seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik. Semua dilakukan tanpa memandang usia maupun status sosial. Setiap orang memiliki peran, sekecil apa pun, sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.

Menjelang siang hingga sekitar pukul 15.00 WITA, suasana berubah menjadi hening dan penuh kekhusyukan. Warga berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama. Lantunan ayat suci dan doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan ampun bagi almarhum atau almarhumah. Dalam keheningan itu, tersimpan rasa kehilangan, harapan, dan keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan bersama menjadi bentuk kasih sayang yang tidak terputus oleh kematian.

Pe’a Loa bukan hanya tradisi untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal, tetapi juga menjadi momen mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan di antara masyarakat,” ujar Pak Ruslan, salah seorang warga Desa Batu Jaya.

Tradisi inilah yang menarik perhatian Melani Fatikan, mahasiswa Program Studi Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Saat mengikuti KKN-PPM Universitas Gadjah Mada Periode II Tahun 2026 Unit SG004 Konawe Selatan Sub Unit Batu Jaya di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., dosen FMIPA UGM, Melani mendokumentasikan Pe’a Loa sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.

Menurut Melani, Pe’a Loa mencerminkan lebih dari sekadar nilai religius. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada sesama tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat Batu Jaya. Mulai dari memasak bersama, mempersiapkan acara, hingga pelaksanaan doa, seluruh proses dilakukan secara kolektif sebagai wujud saling membantu dalam suka maupun duka.

Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengubah wajah kehidupan desa, Pe’a Loa hadir sebagai pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan dalam bangunan tua atau benda bersejarah. Ia hidup dalam kebiasaan, dalam tangan-tangan yang saling membantu, dalam doa yang dipanjatkan bersama, dan dalam kehangatan silaturahmi yang terus dirawat.

Melalui dokumentasi yang dilakukan Tim KKN-PPM UGM Unit SG004 Konawe Selatan Sub Unit Batu Jaya, diharapkan tradisi Pe’a Loa dapat terus dikenal dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Suku Tolaki. Sebab, di balik setiap doa yang dilantunkan, tersimpan pesan yang tak lekang oleh waktu: bahwa kebersamaan, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada mereka yang telah berpulang merupakan nilai-nilai luhur yang layak dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang.(*AN)

 

Editor:NZ