PendidikanNews

Bongkar Jebakan Algoritma dan Ruang Bergema, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UHO Edukasi Pemilih Pemula Jelang Pemilu

347
×

Bongkar Jebakan Algoritma dan Ruang Bergema, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UHO Edukasi Pemilih Pemula Jelang Pemilu

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI— Potensi polarisasi akibat jebakan algoritma media sosial dan fenomena filter bubble (gelembung informasi) kini menjadi ancaman serius bagi iklim demokrasi digital, terutama bagi para pemilih pemula. Terisolasinya pengguna dalam ruang informasi yang seragam dapat membuat masyarakat kehilangan sudut pandang lain yang objektif menjelang pemilu.

Isu krusial mengenai ancaman demokrasi digital ini menjadi sorotan utama yang dibedah dalam Pekan Literasi AI Pemilu yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Kendari, Kamis (17/9/2026). Kegiatan ini digagas oleh Tim Mahasiswa Komunikasi FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) untuk mengedukasi pemilih pemula agar tidak mudah dikendalikan oleh teknologi.

Ketua panitia, Suhayl Saputra Alam, mengawali bedah isu ini dengan membongkar dasar cara kerja algoritma.

Ia menegaskan bahwa kemunculan konten politik atau kandidat tertentu secara berulang di beranda media sosial bukanlah sebuah kebetulan.

“Ketika seseorang sering menonton video atau berinteraksi dengan akun tokoh tertentu hingga selesai, algoritma menangkapnya sebagai tanda ketertarikan. Informasi ini kemudian digunakan untuk merekomendasikan konten sejenis secara terus-menerus. Algoritma membaca preferensi melalui riwayat pencarian, like, komentar, hingga data lokasi,” jelas Suhayl.

Lebih jauh mengenai bagaimana isu politik bisa mendominasi beranda, pemateri Agysta menjelaskan bahwa algoritma beroperasi layaknya “penjaga pintu” yang memprioritaskan konten dengan tingkat interaksi tinggi. Isu kontroversial yang memicu perdebatan di kolom komentar justru dibaca oleh mesin sebagai sinyal penting, sehingga disebarkan lebih cepat dan luas. Akibatnya, pengguna merasa seolah-olah linimasanya didominasi oleh paslon atau isu yang sama.

Pola kerja mesin penyaring inilah yang memicu ancaman nyata bagi demokrasi, yang kemudian dipaparkan oleh Nengsi melalui konsep Filter Bubble dan Echo Chamber (ruang bergema). Narasi ini menjadi inti dari potensi bahaya yang dihadapi masyarakat di era digital.

“Kondisi ini ibarat berteriak di dalam gua kosong. Suara yang memantul kembali hanyalah gema dari suara kita sendiri. Karena tidak mendengar pandangan berbeda akibat disembunyikan oleh algoritma, kita merasa pendapat kitalah yang paling benar. Hal inilah yang sangat rentan memicu polarisasi di tengah masyarakat,” tutur Nengsi mengedukasi para siswa.

Nengsi mengingatkan bahwa arah pembangunan bangsa ditentukan di Tempat Pemungutan Suara (TPS), bukan di kolom komentar. Media sosial boleh saja pintar mengatur algoritma, namun manusia yang harus memegang kendali atas pikirannya sendiri.

Pemaparan gagasan ini memantik antusiasme yang sangat tinggi dari para siswa SMAN 1 Kendari. Kondisi diskusi menjadi sangat hidup ketika para siswa diajak membandingkan isi beranda ponsel mereka masing-masing. Mereka baru menyadari bahwa meski menggunakan aplikasi yang sama, tampilan beranda setiap siswa berbeda-beda sesuai dengan riwayat interaksi mereka.

Sebagai penutup kegiatan, para siswa dibekali langkah praktis untuk mengendalikan algoritma, yakni dengan menerapkan prinsip jeda sebelum merespons konten yang emosional, rajin melakukan cross-check silang ke portal berita resmi, dan fokus pada rekam jejak. Langkah ini diharapkan mampu mencetak generasi pemilih cerdas yang tidak mudah terjebak dalam ruang gema opini sepihak pada Pemilu mendatang.(*)

 

Editor:NZ