Opini

Dari Yogyakarta Ke Konawe Selatan, Tim Kkn Ppm Ugm Pesonamu Bangun Identitas Desa Wisata Berbasis Ekonomi Lokal

665
×

Dari Yogyakarta Ke Konawe Selatan, Tim Kkn Ppm Ugm Pesonamu Bangun Identitas Desa Wisata Berbasis Ekonomi Lokal

Share this article

TERAMEDIA.ID, KONAWE SELATAN — Sebanyak 25 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tergabung dalam Tim KKN-PPM UGM Pesonamu resmi memulai masa pengabdian selama 50 hari di dua desa di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, yakni Desa Namu dan Desa Batujaya.

Kehadiran mereka bukan tanpa perjuangan. Berangkat dari kampus UGM pada Sabtu, 21 Juni 2026, tim yang terdiri dari mahasiswa lintas disiplin ilmu ini harus menempuh perjalanan panjang selama tiga hari penuh sebelum akhirnya tiba di dermaga Desa Namu dan Desa Batujaya pada Rabu malam, 24 Juni 2026. Di dermaga itulah, sambutan hangat warga yang telah menunggu menjadi penanda awal yang mengharukan dari sebuah pengabdian yang baru saja dimulai.

Tim KKN-PPM UGM Pesonamu merupakan bagian dari gelombang penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2026, di mana Universitas Gadjah Mada secara resmi menerjunkan sebanyak 8.178 mahasiswa dalam program KKN-PPM untuk mengabdi di berbagai wilayah Indonesia selama 50 hari.

Mengusung tema “Pembangunan Identitas Desa Wisata Berbasis Pengembangan Ekonomi Lokal Berkelanjutan”, tim beranggotakan 25 orang ini hadir bukan sebagai tamu yang datang dari nol. Mereka adalah penerus generasi KKN yang datang dengan satu misi spesifik: menyempurnakan apa yang telah dibangun tim-tim sebelumnya dan menjadikan Desa Namu benar-benar siap berdiri sebagai desa wisata yang mandiri dan berdaya saing.

Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc., program unggulan yang diusung Tim Pesonamu berpijak pada potensi dan sumber daya yang sudah ada dan telah dirintis dalam periode-periode KKN sebelumnya. Bukan memulai dari awal, melainkan mengoptimalkan, menata, dan memperkuat fondasi yang sudah terbentuk dari pengembangan identitas wisata desa, penguatan ekonomi lokal berbasis potensi setempat, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola desa wisata secara berkelanjutan. Tim Pesonamu hadir sebagai ujung dari sebuah perjalanan panjang pengabdian, dengan tanggung jawab untuk membawa Desa Namu ke titik kesiapan yang sesungguhnya.

Kepala Desa Namu, Nikson, menyambut kehadiran mahasiswa UGM dengan penuh harapan sekaligus pesan yang mengena. Menurutnya, ukuran keberhasilan KKN bukan ditentukan oleh besar atau banyaknya program yang dibawa, melainkan oleh seberapa dalam hubungan yang terjalin antara mahasiswa dan masyarakat.

“Kehadiran adik-adik mahasiswa UGM di sini bisa dikatakan sukses bukan dilihat dari besarnya program yang kalian bawa ke desa ini. Keberhasilan KKN kalian ditentukan dari seberapa berat mama dan papa di sini untuk melepaskan kalian pulang kembali ke Jogja, sampai mengantar ke dermaga, sampai menangis tak mau merelakan kepulangan kalian,” ujar Nikson.

Pesan itu menjadi kompas moral bagi seluruh anggota tim sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di tanah Konawe Selatan: bahwa pengabdian yang sesungguhnya diukur dari kedekatan hati, bukan laporan kegiatan.

Melalui program KKN-PPM Periode II Tahun 2026, UGM berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan masyarakat. Semangat itulah yang kini diemban Tim Pesonamu di dua desa yang menjadi rumah mereka selama 50 hari ke depan.

Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, masyarakat lokal, dan jejaring mitra UGM, Tim KKN-PPM UGM Pesonamu siap menorehkan jejak terakhir yang bermakna, bukan hanya dalam bentuk program tertulis, tetapi dalam kesiapan nyata Desa Namu dan Desa Batujaya untuk melangkah maju sebagai desa wisata yang sesungguhnya.(*AN)

 

Editor:NZ