NewsEntertainmentFilm

Terinspirasi dari Film Desa Wisata Namu, Sutradara Muda Asal Konawe Produksi Film Fiksi Panjang Menggunakan Handphone

×

Terinspirasi dari Film Desa Wisata Namu, Sutradara Muda Asal Konawe Produksi Film Fiksi Panjang Menggunakan Handphone

Share this article

TERAMEDIA.ID, KOTA KENDARI – Satu lagi Film karya Sineas Lokal Sulawesi Tenggara (sultra) akan mewarnai layar bioskop Hollywood Kendari dalam pemutaran khusus mulai 17 Januari 2025.

Film yang mengambil genre Komedi Horor ini, digarap oleh sutradara asal Kabupaten Konawe bernama Alank Eka Aryangga, di Produseri oleh Vian Saryanti Haryato. Dibawah bendera Sogepe Management dan Tim Produksi Laikando Production.Dengan mengangkat cerita fiksi berjudul ” Arwah Pue Tuko “.

Film yang banyak mengambil lokasi produksi di Konawe Utara ini, merangkul pemain dari beberapa wilayah di Sultra mulai konawe, konawe utara, dan Kendari. Dengan latar belakang suku budaya berbeda, namun bersatu dalam film yang mengangkat banyak budaya suku Tolaki.

Dengan durasi Film kurang lebih satu jam setengah ini, meperlihatkan kemampuan akting sejumlah selebgram dan influencer asal kendari, konawe dan konawe utara yang terlibat dalam film ini.

Salah satu yang unik dari produksi film ini adalah, sutradara memutuskan menggunakan alat seadanya yang dimiliki. Karena belum memiliki kamera standar film atau profesional kamera, sehingga dirinya memilih untuk menggunakan HANDPHONE.

” sebenarnya dari awal saya terinispirasi sebuah film yang di produksi Bang Ahmad Nizar (ino) tentang desa wisata namu yang seluruhnya menggunakan Handphone. Meski menggunakan Handphone namun film berjudul Pesonamu itu tetap enak di tonton di layar bioskop. Dari situ saya memberanikan diri untuk mencoba menggunakan Handphone, disisi lain karena memang kami belum punya kamera film yang standar. Di film ini sendiri saya mengangkat banyak tentang budaya suku Tolaki. Proses produksi sendiri kurang lebih 7 bulan karena berbagai kendala tekhnis dilapangan, namun alhamdulillah perlahan satu persatu bisa kami lewati. Dan mungkin hal itu wajar harus dihadapi sebagai perjuangan Karya Perdana saya di Film Fiksi Panjang dan bisa di nonton di bioskop dalam pemutaran khusus. ” ujar Alank (9/1/2026).

Hal menarik lain dari film ini, yaitu mampu melakukan set film dengan membangun kampung buatan dalam sebuah lahan kosong untuk mendukung set properti bangunan tua yang sudah ada di sekitarnya. (***)

 

Editor:NZ