News

Mendikdasmen Soroti Krisis Karakter dan Tantangan Digital Generasi Muda

×

Mendikdasmen Soroti Krisis Karakter dan Tantangan Digital Generasi Muda

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, menyoroti serius krisis karakter dan tantangan dunia digital yang dihadapi generasi muda Indonesia. Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) DPP GUPPI yang dirangkaikan dengan Ummusshabri International Expo dan International Congress 2026 di Aula Hotel Plaza Inn, Kendari, Sabtu (10/1/2026).

Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan nasional saat ini tidak hanya dihadapkan pada persoalan akses dan kualitas, tetapi juga tantangan besar dalam pembentukan karakter, kesehatan mental, dan keadaban digital anak-anak Indonesia.

“Kita menghadapi generasi yang secara fisik kuat, tetapi secara mental dan spiritual banyak yang rapuh. Fenomena ini harus dijawab melalui pendidikan yang membangun karakter dan peradaban,” tegasnya.

Ia menyinggung meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda, mulai dari rendahnya daya tahan mental, kecanduan gawai, hingga dampak negatif media sosial dan game daring. Abdul Mu’ti menilai, teknologi digital di satu sisi membawa manfaat besar, namun di sisi lain menimbulkan persoalan serius jika tidak diimbangi dengan pendidikan nilai dan tanggung jawab moral.

“Penguasaan teknologi adalah keharusan, tetapi harus disertai keadaban digital. Tanpa itu, teknologi justru bisa menjadi sumber kerusakan,” ujarnya.

Mendikdasmen juga menekankan pentingnya peran organisasi masyarakat Islam, seperti GUPPI, dalam membantu negara membangun pendidikan bermutu untuk semua. Dengan ribuan lembaga pendidikan yang dikelola, ormas Islam dinilai memiliki kontribusi nyata dalam penguatan karakter, spiritualitas, dan nilai kebangsaan.

Dalam konteks kebijakan, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong penguatan literasi, numerasi, STEM, coding, dan artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari kurikulum masa depan. Namun, ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus sejalan dengan pembentukan sikap, akhlak, dan tanggung jawab.

“Deep learning bukan hanya soal berpikir tingkat tinggi, tetapi juga menyentuh hati. Belajar harus melibatkan kepala, tangan, dan hati,” katanya.

Ia menambahkan, sekolah ideal harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik. Lingkungan belajar yang positif diyakini mampu membantu anak-anak tumbuh secara utuh, baik secara intelektual maupun emosional.

Kegiatan Silatnas DPP GUPPI ini juga menjadi momentum penguatan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi Islam melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam mendukung kebijakan pendidikan bermutu untuk semua. Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan negara turut memperkaya diskusi mengenai tantangan pendidikan di era digital.

Dari Kendari, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh kebijakan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk ormas Islam, untuk membangun generasi yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing di tengah perubahan zaman.

Reporter: NUR FAUZYAH