Jaga Terumbu Karang, Pemantauan Hama COTS Mulai Dilakukan di Sultra

  • Share

Salah satu ancaman bagi terumbu karang di perairan saat ini, adalah hadirnya Hama Mahkota berduri atau crown-of-thorns starfish (COTS) khususnya di sulawesi tenggara. Atas dasar itu dibentuklah tim yang akan mengawali monitoring dan praktek penanganan hama yang dimaksud. Tim ini melakukan praktek monitirong lapangan di perairan Pulau Labengki , Kabupaten Konawe Utara. ( 25/6/ 2021 )

Lembaga non-pemerintah Naturevolution Indonesia (NEI) bekerjasama dengan Toli-Toli Giant Clam Conservation (TGCC) dan Lembaga Penelitian Prancis, Institute of Research for Development (IRD) di Indonesia pada pertengah tahun 2021 merintis program kerjasama dalam bidang konservasi wilayah laut di Sulawesi Tenggara. Hal ini ditujukan sebagai salah satu upaya dalam mendukung kerja-kerja pemerintah dalam menjaga wilayah laut di Indonesia dengan berbagai keragaman di dalamnya.

Menurut Habib Nadjar Buduha selaku Penanggung Jawab Praktek Lapangan di kegiatan ini , tim monitorong pertama yang dibentuk kali ini, sengaja menyasar kawasan terumbu karang di lokasi wisata penyelaman, hal ini juga sinergi dengan program sapta pesona kepariwisataan.

” kita fokus dulu di wilayah perairan wisata bahari dan penyelaman, diharapkan tim yang ada bisa menjadi corong penelitian ini agar lebih tersosialisasi ke masyarakat agar bisa terjadi gerakan bersama waspada hama COTS ini. Selanutnya tim ini akan memantau masing-masing kondisi COTS di perairan yang mereka selami dan melaporkan data ke kami untuk ditindak lanjuti bagaiamana bisa dilakukan penanganan bersama lagi” ujar habib usai penutupan kegiatan.

Dari hasil survey yang pernah di lakukan pada tahun 2018, tim Naturevolution dan Team Spearo Kendari menemukan cukup banyak Bintang Laut Mahkota Duri (Acanthaster plancii) di wilayah perairan Labengki dan Sombori. Mengingat bahwa spesies ini pada jumlah tertentu dapat berubah menjadi wabah yang mengancam keberadaan terumbu karang, sehingga pelatihan terkait penanganan dan pemantauan keberadaan Bintang Laut Mahkota Duri dirasa perlu untuk dilakukan.

Tim monitorong dan penanganan COTS kali ini terdiri dari yang terdiri dari Natureevolution Indonesia, Toli-Toli GIant Claim Conservation, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UHO, Scuba School Internasional, Team Spearo Kendari, SOmbori Dive Centre, GT Dive Wakatobi, Natureevolution Indonesia, Patampanua DIve Club, OK Dive Centre Uiversitas Muhammadiyah, Fakultas pertanian perikanan dan peternakan Univesitas 19 November, Jurnalis teramedia.id, Labengki Nirwana Resort, Sultra Eco Dive, Sultra Eco Diver dan UKM Selam UHO, melakukan misis penanganan selama 3 hari di perairan Labengki.

Para tim penanganan hama COTS selama 3 hari di perairan labengki dibagi beberapa tim untuk melakukan monitoring awal titik lokasi adanya COTS. Proses monitoring data sebaran dilakukan dengan limit waktu per 10 menit snorkling lokasi masing-masing. Dari semua kumpulan data monitoring , lalu dilakukan persiapan penyuntikan.

Sebelumnya beberapa pematauan penangana COTS dilakukan dengan cara berbeda dan manual hingga mengangkat dan mengambil objek COTSnya. Namun cara penanganan dengan mengangkat cukup riskan karena COTS bisa menyemburkan telur yang akan menjadi cikal bakal regenarasi tumbuhnya COTS baru.

Pendekatan baru yang menggunakan injeksi zat asam alami, yang cukup terjangkau, baru-baru ini telah dikembangkan oleh IRD. Pengujiannya dilakukan baik di laboratorium dalam kondisi yang terkendali dan secara langsungg di lapangan, menunjukkan keberhasilan. Yaitu kematian COTS melalui injeksi beberapa jus buah (jenis jeruk nipis dan markisa), cuka putih, dan beberapa asam bubuk yang dapat dengan mudah diperoleh dari industri pangan pertanian. Zat-zat tersebut dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, bahkan dengan dosis rendah dengan kematian 100% dalam kurun waktu 12-24 jam. Saat ini, metode ini menjadi alternatif yang ramah lingkungan serta kredibel dalam memerangi wabah COTS di seluruh negara. Telah diuji oleh IRD sejak 2014 di Vanuatu dan New Caledonia, metode ini terbukti efisien di lapangan dengan pemberantasan COTS yang lebih dari 1 ton dalam kurun waktu 2 hari.

Perlengkapan injeksi yang digunakan terdiri dari pistol injeksi yang dihubungkan dengan jarum 16G (Birmingham gauge), yang juga selangnya terhubung dengan jeregen/wadah dengan bervolume 5L. Idealnya, injector yang digunakan adalah yang memiliki dosis 10 ml per injeksi. Namun alat injector bisa di modifikasi ke yang lebih simpel namun tahan karat agar bisa digunakan lebih lama.

Dari hasil pemantauan tim COTS Sultra kali ini, Perairan Labengki Konawe Utara masuk dalam kategori Warning kawasan penyebraran COTS.

Jika sebuah kawasan terdapat dalam pemantauan 10 menit hanya terdapat 1 COTS atau dalam 1 hektar kurang dari 15 ekor, maka COTS yang ada dianggap bukan wabah. Jika dalam 10 menit monitoring terdapat 2 sampai 4 ekor dan dalam 1 hektar terdapat 15 sampai 100 ekor COTS maka kawasan itu berstatus Warning dan memungkikan menjadi wabah harus rutin dilakukan pemantauan. Dan jika dalam 10 menit monitoring jumlhanya melebihi 5 ekor atau dalam 1 hektar kawasan terdapat lebih dari 100 ekor maka COTS sudah menjadi wabah di kawasan itu sehingga direkomendasikan untuk intervensi segera.

banner 33x90 banner 33x90 banner 33x90
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 33x90 banner 33x90 banner 33x90