NewsMetro

Harga Beras di Pasar Tradisional Anduonohu, Kota Kendari Tembus Hingga Rp800.000 per 50 Kg

213
×

Harga Beras di Pasar Tradisional Anduonohu, Kota Kendari Tembus Hingga Rp800.000 per 50 Kg

Share this article

TERAMEDIA.ID,KOTA KENDARI- Mendekati Bulan Suci Ramadhan harga beras di Pasar Tradisional Anduonohu, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus meroket.

Bukan hanya dikeluhkan para pembeli saja, bahkan para pedagang sendiri mengaku menjerit imbas kenaikan beras ini.

Salah satu pedagang, Wa Ode Eti mengatakan harga beras naik sejak 2023 lalu, namun masih bisa dijangkau. Memasuki 2024, harga beras semakin tak terkendali.

Seperti beras dengan ukuran 50 Kg misalnya, kini dibanderol dengan harga Rp800.000. Sedangkan ukuran 25 kg dibanderol dengan harga Rp430.000, 10 kg Rp180.000, 5 kg dijual Rp90.000, dan beras merah dijual dengan harga Rp20.000 per liter.

“Sejak masuk 2024 harga beras melonjak sekali mi, itu hari masih dapat Rp600.000 per 50 kg, sekarang tidak ada mi,” ucapnya, Senin (04/03/2024).

Menurutnya, kenaikan harga beras ini dipicu oleh gagal panen yang terjadi pada saat musim kemarau lalu.

Bahkan, diperkirakan kenaikan harga pangan ini akan terjadi hingga Ramadhan bahkan sampai Idul Fitri 2024.

Selain beras, harga kebutuhan pokok lainnya juga melonjak seperti gula pasir sebelumnya dijual Rp17.000 per kilo, menjadi Rp20.000 per kilo.

Sedangkan minyak goreng merek Sinai dijual Rp170.000 per 2 liter menjadi Rp185.000. Minyak goreng merek sedap dijual Rp20.000 per 1 liter.

Bawang putih dijual Rp60.000 per kilo, bawang merah Rp45.000 per kilo, gula merah Rp35.000 per kilo.

“Pembeli itu berteriak, kebanyakan mengeluhkan harga beras. Kadang kami (pedagang) sampaikan sama pembeli, andaikan murah diambil tidak mungkin kami kasi naik harga,” bebernya.

Salah satu warga Kambu yang hendak membeli beras, Risma mengaku sejak harga beras naik dirinya membeli beras ukuran 10 kg, padahal sebelumnya dirinya selalu membeli ukuran 25 kg.

“Iya biasanya beli ukuran 25 kg, tapi sekarang beras mahal mba, ibu-ibu banyak mengeluh karena kan banyak kebutuhan lain. Tapi mau gimana lagi, walaupun mahal tetap dibeli karena kebutuhan pokok,” tutupnya. (NV)

 

Editor:NZ