EkonomiNewsPariwisata

Desa Wisata Namu, Bukti Nyata Kontribusi Bank Indonesia Gerakkan Ekonomi Masyarakat Pelosok

1143
×

Desa Wisata Namu, Bukti Nyata Kontribusi Bank Indonesia Gerakkan Ekonomi Masyarakat Pelosok

Share this article

 

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Siapa sangka Desa Wisata Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, yang masih tergolong kawasan terpencil mampu menggemakan pariwisata hingga ke tingkat nasional setelah meraih prestasi membanggakan dalam ajang Wonderful Indonesia Award tahun 2025.

 

Desa yang dahulu hanya bisa diakses melalui laut, baru menikmati sarana listrik per tahun 2025, belum memiliki jaringan telekomunikasi, akses darat sudah terbuka namun jauh dari kata standar jalan kabupaten. Kini bergerak maju dengan mengandalkan potensi alam mereka.

 

Desa yang dikenal sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Nasional berbasis alam ini, mengembangkan potensi yang dimiliki, dan kemudian menjadi daya Tarik wisatawan.

 

Namun seiring perjelanan pengembangan tersebut, dengan kondisi desa yang masih tertinggal tentu membutuhkan dukungan banyak pihak yang biasa di sebut pentahelix pariwisata.

 

Nikson, selaku Kepalad Desa Namu menuturkan bahwa, Bank Indonesia Sultra khususnya salah satu yang memberikan masyarakat namu untuk lebih percaya diri mengembangkan kepariwisataan dengan tujuan mendorong pergerakan ekonomi masyarakat yang lebih baik.

 

“ Awalnya itu salah satu divisi dari pihak Bank Indonesia  , datang ke desa kami, kemudian melakukan Obervasi lapangan dan visitiasi ke spot-spot wisata kami, kemudian lokasi UMKM, dan diskusi hingga tanya jawab dengan kami pemerintah desa dan perwakilan pengelola wisata kami terkait kelembagaan, manajamen keuangan dan program pengelolaan  wisata kami disini. Serelah itu beberapa bulan tiba-tiba kami dihubungi kembali dan diundang ke Kantornya BI Sultra di kendari, untuk diskusi dan menjawab pertanyaan sambil memberikan data ke pihak BI termasuk program pengembangan pariwisata kami mulai jangka pendek, menengah dan jangka Panjang yang tertuang dalam roadmap atau Milestone Desa Wisata Namu “ ungkap nikson. (5/09/2026).

 

Lanjut Nikson, setelah pertemuan di Kantor BI Sultra beberapa bulan selanjutnya, kami diberi bantuan beberapa peralatan pendukung pariwisata untuk wahana air. Dan sampai saat ini fasilitas tersebut masih digunakan untuk menjadi sumber ekonomi masyarakat khususnya tim pokdarwis kami yang mengelola langsung. Dari dukungan tersebut, komunikasi terus dibangun oleh pihak Desa Namu dengan perwakilan Bank Indonesia Sultra.

 

“ jadi kami mulai sering memberi laporan ke BI meski hanya sekedar info saja terkait dampak dukungan fasilitas, kemudian kondisi peralatan wisata yang diberikan ke kami. Tapi dari komunikasi-komunikasi tersebut, ternyata terbuka lagi ruang diskusi terkait tantangan pengembangan pariwisat di desa kami. Salah satunya system digitalisasi hingga pembayaran digital yang sering ditanyakan wisatawan. Masalah ini bagi kami tentu sangat tidak mampu berbuat banyak karena membutuhkan infrastruktur digitalisasi yang membutuhkan anggaran tidak sedikit, dan tentu tidak bisa lagi berharap banyak dengan Dana Desa Kami yang sudah mengalami pemangkasan hampir 70%. “ Lanjutnya.

 

Dari hasil pemetaan tentang tantangan dan kebutuhan Desa Wisata Namu, kemudian lahirlah program dukungan selanjutnya, dimana Bank Indonesia Sultra membangun infrastruktur layanan internet, kemudian ruang loket wisata yang represntatif lengkap dengan system komputerisasinya, dan rencana dukungan Sondbox Qris untuk meladeni transaksi digital di pusat-pusat belanja bagi wisatawan.

 

Nikson menegaskan, dengan hadirnya internet di beberapa titik wisata dan pemukiman warga, mungkin bisa di cek, kami salah satu Desa yang program Desa Wisatanya paling aktif di Sulawesi Tenggara. Jadi bukan paling rame wisatanya, melainkan Program Desa Wisatanya. Jadi pokdarwisnya bergerak, Homestay sekarang makin kuat dengan layanan komunikasi terbuka dengan konsumen karena jaringan internet sudah ada. UMKM sudah memiliki layanan transaksi alternative selain tunai. Dan jika di lihat dari pergerakan desa wisata di sultra, Desa Namu adalah desa wisata dengan jumlah kunjungan nginap tertinggi bagi wisatawan.

 

“ Dengan hadirnya internet stralink di beberapa titik wisata secara gratis, kemudian loket wisata yag representative, ditambah system komputerisasi, ini sangat berdampak bagi masyarakat kami dan wisatawan khususnya. Pokdarwis kami kini sudah mulai belajar system digitalisasi pariwisata mulai promosi, desain grafis, dan manajemen data dan keuangan secara digital. Karena sarananya sudah tersedia semua. Apalagi produk Kelompok Wanita Tani dan UMKM Kami sudah mulai lancar promosi produk mereka, kios-kios sudah berani transaksi system transfer kalau yang belum puya barcode Qris, tapi yangsudah punya bracode sudah lancar gunakan transaksi Qris. Memang saat ini kami belum mermapungkan data perhitungan yang akan kami laporkan ke BI Sultra terkait dampak ekonomi di desa kami atas dukungan Bank Indonesia saat ini, namun saya yakin terjadi pergerakan positif dari tahun sebelumnya untuk nilai ekonomi masyarakat di desa kami saat ini “ Tutupnya

 

Editor:NZ