News

Dari Rumah, Sultra Mulai Membangun Kesejahteraan Lewat Gotong Royong

518
×

Dari Rumah, Sultra Mulai Membangun Kesejahteraan Lewat Gotong Royong

Share this article

TERAMEDIA.ID, Kota Kendari – Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara dimulai dari sesuatu yang paling mendasar: rumah yang layak.

Pesan itu disampaikan Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, saat menghadiri peluncuran Program Gotong Royong Bedah Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Rabu (30/9/2026).

Program yang digagas melalui kolaborasi BAZNAS Sultra, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, Tunas Muda Adhyaksa, Real Estate Indonesia (REI) Sultra, serta sejumlah pihak lainnya tersebut diluncurkan secara serentak di 17 kabupaten/kota se-Sultra secara daring.

Bukan sekadar membangun rumah, program ini membawa pesan bahwa persoalan kesejahteraan masyarakat tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar bantuan yang diberikan lebih luas dan tepat sasaran.

Ketua BAZNAS Sultra, Punardin, mengatakan program gotong royong tersebut menargetkan pembangunan 200 unit rumah bagi masyarakat yang membutuhkan.

Setiap penerima manfaat memperoleh dukungan senilai Rp50 juta per rumah, yang berasal dari kombinasi Rp20 juta Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) APBN dan Rp30 juta dana CSR yang dikelola BAZNAS.

Sasaran program adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang masuk dalam desil 1 hingga 4.

Punardin mengatakan mekanisme pendataan penerima bantuan dilakukan secara terintegrasi dengan instansi perumahan. Karena itu, masyarakat yang memiliki keluarga dengan kondisi rumah yang memenuhi kriteria diminta berkoordinasi dengan balai perumahan agar dapat masuk dalam basis data program perumahan nasional.

Program tersebut juga mendapat dukungan dari Satker Penyedia Perumahan Wilayah III Sulawesi serta berbagai pihak lainnya.

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengawasan dan Pengendalian sekaligus Pembina Wilayah Provinsi Sultra, Hj. Neyla Saida Anwar, menilai program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana zakat, infak, dan sedekah dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi antara BAZNAS, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar bantuan sosial tidak berhenti pada pemberian sesaat, tetapi mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

Ia juga berharap dukungan masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah terus meningkat serta rumah yang telah dibangun dapat dirawat dengan baik oleh penerima manfaat.

Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, Dr. Sugeng Riyanta, mengatakan program tersebut merupakan upaya menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagai kekuatan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sugeng mengakui, selama ini berbagai program bedah rumah telah dijalankan pemerintah maupun sejumlah lembaga. Namun, pelaksanaannya masih cenderung berjalan sendiri-sendiri.

Melalui kolaborasi, kata dia, berbagai sumber daya tersebut dapat disatukan sehingga pembangunan rumah bagi masyarakat membutuhkan dapat dilakukan secara lebih masif dan terarah.

Kejaksaan, lanjut Sugeng, melalui fungsi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) juga turut mendampingi Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman dalam pelaksanaan program pembangunan rumah.

Tidak berhenti pada pembangunan fisik, kolaborasi juga diarahkan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan kepastian dokumen pertanahan melalui program sertifikasi tanah yang dilaksanakan Badan Pertanahan Nasional.

Gubernur: Kesejahteraan Dimulai dari Rumah

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, mengatakan gagasan program tersebut bermula dari usulan Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra dalam rangkaian kegiatan HUT Adhyaksa.

Gagasan itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah gerakan sosial yang melibatkan berbagai pihak.

Menurut Gubernur, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki program bedah rumah. Namun, program-program tersebut akan memiliki dampak yang lebih besar apabila dikolaborasikan.

“Dengan adanya gotong royong seperti ini, maka kita memulai kesejahteraan masyarakat itu dari rumah,” kata Andi Sumangerukka.

Gubernur bahkan menyatakan dukungan pribadi sebesar Rp250 juta untuk program tersebut.

Komitmen itu kemudian mendapat respons dari sejumlah pihak yang hadir. Donasi tambahan secara spontan terkumpul sekitar Rp400 juta.

“Ini bukan untuk siapa-siapa, ini untuk menyejahterakan masyarakat. Rumahnya harus jadi,” tegasnya.

Bagi Gubernur, rumah bukan sekadar bangunan tempat berlindung. Hunian yang layak merupakan salah satu fondasi penting bagi keluarga untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ketika kebutuhan dasar berupa tempat tinggal telah terpenuhi, pemerintah dapat mendorong pemenuhan kebutuhan lainnya, mulai dari pekerjaan hingga peningkatan taraf hidup keluarga.

Abdul Rahman dan Harapan dari Rumah Baru

Di tengah peluncuran program tersebut, kisah Abdul Rahman, salah satu penerima manfaat, menjadi gambaran nyata mengapa program bedah rumah dibutuhkan.

Sebagai warga penyandang disabilitas, Abdul Rahman berharap pembangunan rumah yang diterimanya dapat segera diselesaikan.

Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan dan berharap rumah tersebut nantinya dapat menjadi tempat tinggal yang lebih layak bagi dirinya dan keluarganya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bantuan BSPS dan bantuan Program Gotong Royong Bedah Rumah, penyerahan sertifikat tanah, serta 150 paket sembako kepada masyarakat.

Gubernur Sultra bersama Wakil Gubernur, Kajati Sultra, dan jajaran terkait selanjutnya meninjau lokasi rumah penerima manfaat di Kelurahan Mokoau.

Di lokasi tersebut, dilakukan pula peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah dalam Program Gotong Royong Bedah Rumah.

Dari Mokoau, pesan program ini menjadi sederhana namun kuat: kesejahteraan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari sebuah rumah yang layak, dari kepedulian, dan dari orang-orang yang memilih untuk bergotong royong.(*)

 

Editor:NZ