Opini

Peralihan Status dari IAIN Kendari Menjadi UIN Kendari, Merubah Rasa atau Sekedar Merubah Wajah

×

Peralihan Status dari IAIN Kendari Menjadi UIN Kendari, Merubah Rasa atau Sekedar Merubah Wajah

Share this article

Opini Oleh : Tasnur Tehangga (Alumni IAIN Kendari Tahun 2017 / Penulis Novel Namaku Tenggara)

 

TERAMEDIA.ID, KOTA KENDARI – Apakah perubahan status dari IAIN menjadi UIN dapat meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi? Pertanyaan ini menjadi persoalan paling dasar yang harus dijawab oleh perguruan tinggi.

Peralihan status bukan sekedar merubah nama dari Institut menjadi Universitas, tapi harus beriringan dengan inovasi dan program kreatif lembaga pendidikan.

Bagaimana menciptakan tenaga pendidik yang kompeten dan berkualitas. Bagaimana menciptakan mahasiswa yang yang tidak hanya hebat dalam dunia akademisi, tapi mampu menjadi pengawas dalam kebijakan pemerintah dan lingkungan sosial, baik agama bangsa dan negara. Bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, kreatif dan membangun, yang tidak hanya menjadikan mahasiswa sebagai penonton dalam program program perguruan tinggi, tapi aktif melibatkan mahasiswa, menjadikan mahasiswa sebagai sentral aktivitas perguruan tinggi.

Bagaimana menciptakan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia kerja dan dunia usaha, yang tidak hanya berpangku tangan sambil bermimpi manis mengenakan seragam pegawai negeri atau terpaksa terjun dengan penutup kepala berwarna kuning.

Tantangan lembaga pendidikan dalam hal ini IAIN Kendari akan lebih kompleks di tengah ketidakpastian ekonomi dan lapangan kerja.

Apakah IAIN Kendari mampu memenuhi kebutuhan industri yang bergerak cukup cepat ini? Bersaing dengan lembaga pendidikan umum.

Apakah inovasi akan lahir dengan perubahan status itu? Menjawab keresahan mahasiswa terhadap masa depan mereka.

Salah satu isu yang menjadi keresahan, yang terus hangat dibicarakan baik media mainstream maupun di media sosial adalah guru. Dilema profesi ini terus tumbuh seiring berkembangnya dunia pendidikan, pergantian presiden, pergantian menteri pendidikan, pergantian kepala daerah sampai pada pergantian kurikulum dan semua kebijakan pendidikan. Profesi guru masih saja terus menghantui para mahasiswa dan alumni pada jurusan pendidikan guru.

Ketidakpastian profesi ini menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Profesi yang tidak dapat menjamin hidup layak bila tidak berstatus guru pegawai negeri. Guru honorer menjadi pelarian paling akhir dengan keterpaksaan yang dibalut dengan mimpi dapat diangkat menjadi guru pegawai negeri.

Jurusan ini menjadi ketakutan yang nyata dalam hidup perguruan tinggi, di tengah banyaknya lulusan sarjana pendidikan. Negara membatasi pendaftaran guru pegawai negeri. Maka akan kemana mereka berlabuh? Pilihan terakhirnya adalah dermaga honorer. Profesi mulia yang di upah dengan tiga lembar uang merah setiap bulannya.

Persoalan ini adalah hantu yang nyata. Memilih jurusan pendidikan guru, seperti masuk dalam jeruji besi, yang perlahan lahan ditenggelamkan kedalam sungai konaweeha.

Peralihan status dari Institut menjadi Universitas, tidak boleh hanya sekedar perubahan nama perguruan tinggi, yang di pajang dengan gagah di pintu gerbang dan kop surat saja, tapi harus merubah rasa takut menjadi peluang yang selanjutnya dapat di banggakan. Pendidikan guru harus dapat dirancang dengan inovasi diluar batas pengetahuan normal, menjadikannya mampu bersaing dalam sektor yang lebih luas, seperti manajemen dan sumber daya manusia.

Perguruan tinggi diharapkan berani berinovasi, mengembangkan ataupun merubah program studi yang dapat meningkatkan peluang pada sektor yang lebih luas. Merubah program studi ekonomi islam menjadi program studi ekonomi, yang tetap menerapkan mata kuliah ekonomi Islam dalam kurikulum pendidikannya, untuk tetap menjaga warna perguruan tinggi sebagai salah satu perguruan tinggi yang menerapkan pengetahuan islam dalam praktiknya. Begitupun program studi yang lainnya.

Peralihan status adalah sebuah pencapaian yang patut didukung dan disambut dengan gembira, sebab status Universitas adalah sebuah pencapaian yang nyata dalam dunia perguruan tinggi yang bernaung di bawah payung kementerian agama.

Perubahan status IAIN Kendari menjadi UIN Kendari, makin menguatkan visi perguruan tinggi, sebagai pusat pengembangan dan pengkajian Islam di Sulawesi Tenggara yang sejalan dengan slogan ibukotanya, “Kendari Kota Bertaqwa.”(***)

 

Editor:NZ