HeadlineNews

Pembukaan TWKM ke-35 MAPALA Se-Indonesia di Kota Kendari

364
×

Pembukaan TWKM ke-35 MAPALA Se-Indonesia di Kota Kendari

Share this article

TERAMEDIA.ID, Kota Kendari – Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) ke 35 Mahasiswa Pe-Cinta Alam se-Indonesia, resmi dibuka (22/10/2026). Mahacahala UHO Kendari , untuk kali kedua setelah 30 tahun menjadi tuan rumah kegiatan terbesar pertemuan MAPALA se-Nusantara ini.

Rektor Universitas Haluoleo yang di wakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Haluoleo (UHO) La Ode Santiaji Bende saat membuka kegiatan mengungkapkan bahwa kebanggannya karena melalui Mahacala UHO dipercaya menjadi tuan rumah bagi bertemunya para agen perubahan, para petualang intelektual dan penjaga kelestarian alam dari seluruh penjuru nusantara.

” Tema yang diusung tahun ini sangat luar biasa dan visioner yaitu hirisisasi hijau kolaborasi pemuda dan industri menuju Indonesia emas 2045, yang saat ini tinggal sekitar dua puluh lima tahun lagi pas seratus tahun kemerdekaan Indonesia. Kegiatan ini bukan hanya sekedar deretan kata tanpa makna tetapi sangat sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, yang sedang gencar mendorong hirisisasi industri untuk mendongkrak ekonomi.” ujar Santaiji.

Diharapkan mahasiswa pencinta alam hadir untuk mengingatkan kita semua, bahwa hirisisasi tersebut harus bertumpu pada prinsip hijau. Yakni prinsip yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan aman secara sosial dan menjaga hak generasi yang akan datang.

Selain itu Ini adalah wujud kontribusi nyata para mahasiswa dan Mapala menuju Indonesia emas 2045.

Warek I UHO juga menyampaikan bahwasannya berada di dalam organisasi pencinta alam seperti Mapala adalah sebuah keistimewaan. Organisasi bukan sekedar tempat berkumpul atau menyalurkan hobi bertualang. Organisasi adalah laboratorium kepemimpinan yang sesungguhnya, mahasiswa belajar tentang manajemen risiko saat mendaki gunung atau menelusuri gua atau menyelam. Lalai sedikit pasti berakibat fatal. Mereka belajar tentang solidaritas, empati dan bagaimana mengambil keputusan krusial di bawah tekanan alam yang ekstrim. Nilai-nilai inilah yang membentuk soft skill yang tidak akan pernah didapatkan secara utuh jika hanya duduk di dalam ruang kelas.

Melalui TWKM ke 35 ini penting ditekankan bahwa organisasi harus menjadi wadah untuk melahirkan gagasan-gagasan solutif, kolaboratif yang tertuang dalam tema kegiatan ini harus diwujudkan.

Tentang Hilirisasi hijau menuntut kita semua untuk terus memperbaiki substansi pembelajaran di perguruan tinggi.

Belajar mencintai alam saat ini tidak cukup hanya dengan menanam pohon atau membersihkan sampah. Kita harus naik kelas yang meminta kita menguasai sains, teknologi dan lingkungan.

Sejumlah peserta TWKM ke-35 Kali ini khususnya divisi gunung hutan, sudah lebih dulu melakukan perjalanan pengenalan medan Gunung Mekongga, dan akan bergabung kembali dengan seluruh perserta dari divisi lain pada saat hari puncak penutupan kegiatan TWKM ke-35.

Rangkaian kegiatan TWKM ke-35 kali ini diantaranya, Temu Wicara Nasional Mapala se-Indonesia di Kota Kendari, Kenal Medan Gunung Hutan Pegunungan Verbek puncak Mekongga 2620 Mdpl di Kabupaten Kolaka Utara, Kenal Medan Diving Wallacea Triangle di kabupaten Wakatobi, dan Kenal Medan Tebing Karts Matarombeo Tebing Tenggara Linomoiyo, Kabupaten Konawe Utara. Di Pembukaan kegiatan juga di rangkaikan Seminar Nasional tentang Hilirisasi Hijau.

Dihadapan tamu undangan dan seluruh peserta perwakilan Mapala se-Indonesia yang hadir, Warek I juga menegaskan bahwa ” Gunakanlah momentum kenal medan ini untuk memetakan potensi sekaligus ancaman ekologis di Sulawesi Tenggara. Jadikan bentang alam Bumi Anoa sebagai ruang kelas terbuka untuk riset, analisis dengan ilmu dan akademik yang kalian tekuni di kampus masing-masing, ingatlah bahwa pencinta alam yang seja-sejati adalah mereka yang mampu memadukan kekuatan otot, ketangguhan mental dan ketajaman intelektual untuk menyelamatkan bumi ini. Namun, para mahasiswa sekalian, ada satu hal penting yang ingin saya titipkan sebagai orang tua kalian di kampus. Seringkali muncul stigma di masyarakat bahwa aktif di Mapala membuat mahasiswa lupa jalan pulang ke ruang sidang skripsi. Ya, mudah-mudahan tidak terjadi untuk kalian anak-anakku sekalian, ya. Saya mewakili Rektor UHO menantang kalian semua jadilah kader Mapala yang tangguh di alam, hebat di organisasi dan tetap juga cepat menyelesaikan studi dan berprestasi”.Tutupnya.(*)

Editor:NZ