News

GENBI GROW Dorong Ketahanan Pangan di Kolaka

428
×

GENBI GROW Dorong Ketahanan Pangan di Kolaka

Share this article

TERAMEDIA.ID, Kolaka — Upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan literasi kebanksentralan diwujudkan melalui kegiatan Kolaborasi Literasi Kemandirian Ketahanan Pangan yang digelar pada Sabtu–Minggu, 26–27 September 2026, di Kabupaten Kolaka.

Kegiatan yang dikemas dalam event GENBI GROW (GenBI Resilience Organic Way) ini merupakan kolaborasi Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kolaka, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Kolaka, serta Generasi Baru Indonesia (GenBI) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka.

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, serta anggota PKK dari berbagai wilayah di Kabupaten Kolaka.

Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun pemahaman masyarakat bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni rumah tangga.

Di tengah tantangan fluktuasi harga pangan serta kondisi iklim dan cuaca yang semakin tidak menentu, masyarakat diberikan edukasi mengenai pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan produktif melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi sekaligus praktik budidaya tanaman hortikultura, seperti cabai, tomat, bayam, kangkung dan sejumlah tanaman pangan lainnya.

Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kolaka turut memberikan penguatan kapasitas kepada peserta mengenai pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga.

Selain aspek produksi pangan, GENBI GROW juga mengangkat isu kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Peserta diperkenalkan dengan pengelolaan limbah organik rumah tangga melalui praktik pembuatan eco-enzyme. Edukasi ini memberikan pemahaman mengenai bagaimana limbah organik dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat dan dapat mendukung aktivitas budidaya tanaman.

Praktik tersebut mendapat dukungan dari penyuluh lapangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Kolaka.

Sebagai bagian dari aksi nyata, panitia juga membagikan bibit cabai kepada peserta. Pembagian bibit tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat dilanjutkan melalui penanaman dan pemeliharaan di lingkungan rumah masing-masing.

Dengan demikian, edukasi yang diberikan dapat berkembang menjadi gerakan sederhana yang mendukung kemandirian pangan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan dan lingkungan, GENBI GROW juga menjadi ruang untuk memperkuat literasi kebanksentralan melalui edukasi yang melibatkan Bank Indonesia, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, GenBI, serta organisasi perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Kolaka.

Materi yang disampaikan mencakup Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, pemahaman mengenai Rupiah, penggunaan QRIS sebagai sistem pembayaran, serta pentingnya pelindungan konsumen.

Muhammad Ashar, Asisten Analis Seksi Kehumasan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, edukasi yang diberikan dalam GENBI GROW tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga mendorong lahirnya kebiasaan dan aksi nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi masyarakat, baik dalam ketahanan pangan, kepedulian terhadap lingkungan maupun literasi kebanksentralan,” ujar Muhammad Ashar.

Ia menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi penting agar edukasi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Kehadiran lebih dari 200 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa dan ibu-ibu PKK juga menunjukkan bahwa isu ketahanan pangan, lingkungan dan literasi keuangan memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Melalui GENBI GROW (GenBI Resilience Organic Way), edukasi tidak hanya disampaikan dalam bentuk materi, tetapi juga diterjemahkan melalui praktik budidaya tanaman, pengolahan limbah organik, pembagian bibit, hingga pemahaman mengenai transaksi pembayaran digital dan penggunaan Rupiah.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, peduli terhadap lingkungan, sekaligus memiliki literasi ekonomi dan kebanksentralan yang lebih baik.(*)

Editor:NZ