longformDaerah

Cahaya Harapan Menembus Batas Pelosok Desa Namu

760
×

Cahaya Harapan Menembus Batas Pelosok Desa Namu

Share this article

TERAMEDIA.ID, Konawe Selatan – Di wilayah terpencil, dengan keterbatasan akses kehadiran listrik bukan sekadar tentang lampu yang menyala ketika malam tiba. Lebih dari itu, listrik membawa peluang baru bagi masyarakat untuk mengubah cara hidup, memperluas aktivitas ekonomi, dan membangun harapan akan masa depan yang lebih baik.

Sejak berdiri tahun 1993 sebagai wilayah administrasi Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara bagi masyarakat setempat hadirnya listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada tahun 2024 menjadi titik awal perubahan yang menyentuh kehidupan rumah tangga, usaha kecil, hingga pergerakan ekonomi desa secara keseluruhan. Dimana beberapa tahun belakang mereka hanya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan keterbatasan pemakaian jauh dibandingkan dengan fasilitas listrik PLN.

Sebelum akses listrik tersedia secara memadai, keterbatasan energi dapat menjadi salah satu hambatan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas produktif. Waktu berusaha mungkin terbatas pada siang hari, penggunaan peralatan untuk mendukung pekerjaan belum optimal, sementara akses terhadap informasi dan teknologi juga dapat menghadapi kendala. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak hanya berhadapan dengan tantangan geografis sebagai penduduk wilayah terpencil, dengan aksesbilitas yang terbatas, tetapi juga dengan keterbatasan sarana untuk mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki.

Foto : Spot Pasir Timbul Dermaga Pelangi, Desa Wisata Namu

Desa Namu sendiri baru menikmati akses jalan darat mulai dirintis sejak tahun 2022, meski hingga saat ini status jalannya masih seperti jalan rintisan beralaskan tanah, belum ada peningkatan kualitas. Disamping itu jaringan telekomunikasi juga belum pernah dirasakan hadir di desa ini, meskipun pertahun 2026 mulai dibantu dengan dukungan bantuan layanan internet starlink.

Foto: Kondisi Jalan Kabupaten Menuju Desa Namu

 

Tahun 2017 Desa Namu sendiri sudah ditetapkan sebagai Desa Wisata, melalui SK Bupati Konawe Selatan dan kemudian mengalami pembaharuan di tahun 2021.

Memiliki potensi alam laut, perkebunan, hutan dengan sebuah ari terjun, Desa Namu memanfaatkan potensi ini mejadi daya tarik pariwisatanya. Dengan menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan berbasis alam, lingkungan, edukasi dan konservasi, konsistensi pergerakan pariwisata yang dimotori masyarakat setempat melalui konsep Community Based Torusim (CBT) mampu membuahkan prestasi nasional pada tahun 2025.

Foto: Salah satu Spot Wisata Kawasan Camping Ground Desa Namu

 

Foto: Wisata Edukasi Pelestarian Terumbu Karang

Foto:Wisata Edukasi dan Pelestarian Mangrove

 

Foto: Wisatawan Belajar Kerajinan Tangan Produk Lokal Desa Namu

Melalui ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, Desa Wisata Namu di tetapkan sebagai Desa Wisata Terbaik ke-3 Nasional Berbasis Alam dan mampu menyisihkan enam ribuan lebih pesaing desa wisata di seluruh  Indonesia saat itu.

Hal ini membuktikan bahwa kondisi wilayah yang sedikit terisolir akibat akses darat yang belum memadai,  namun kekuatan pergerakan kepariwisataan di desa ini terbukti konsisten dan memiliki kekuatan tersendiri.

Foto: (kedua kekanan dari ibu menteri pariwisata ) Kades Namu Menerima Penghargaan WIA 2025

 

Dengan 142 Kepala KKeluarga (KK) menghuni Desa Namu saat ini, melalui gerakan desa wisata masyarakat Desa Namu mendeklarasikan untuk bersama menjaga alam mereka dari gangguan apapun. Bahkan Desa ini tercatat sebagai salah satu Desa di Sulawesi Tenggara yang menolak kehadiran pertambangan diwilayah mereka meski kawasan ini sudah menjadi incaran Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Menolak perusakan ekosistem laut, perusakan hutan dan aktivitas eksploitasi lingkungan menjadi kampanye utama masyarakat setempat, ditengah kepungan beberapa izin pertambangan di kecamatan yang sama.

Meski dengan sarana dan prasarana yang sangat jauh dari kata cukup, seperti fasilitas Pendidikan yang hanya terdapat sekolah Dasar (SD) satu unit) dan SMP Satu atap satu unit, hanya terdapat satu puskesmas pembantu, tidak adanya pasar dan hanya menggunakan pasar desa lain yang harus ditempuh hampir 1 jam perjalanan laut ataupun darat, namun penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat setempat menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan potensi desa mereka baik potensi alam maupun pariwisata.

Namun pengembangan pariwisata di desa ini mengalami kendala, khususnya terkait digitalisasi, alat pendukung pengawetan produk lokal dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mengalami keterbatasan khususnya saat mengunakan sarana kelistrikan melalui yang sebelumnya hanya menggunakan PLTS dengan daya dan waktu operasional yang sangat terbatas.

Kehadiran listrik PLN pada tahun 2024 kemudian membuka ruang bagi perubahan. Cahaya yang menerangi desa selama 24 jam sekaligus memungkinkan aktivitas masyarakat berlangsung lebih lama dengan daya yang lebih tinggi. Warung dan usaha produk UMKM dapat melayani pelanggan lebih lama, usaha kuliner memiliki kesempatan memperpanjang jam operasional, dan berbagai kegiatan ekonomi rumah tangga berpeluang dilakukan dengan lebih efektif. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan, pertanian, perdagangan, atau usaha jasa, listrik juga berpotensi mendukung penggunaan peralatan produktif, penyimpanan hasil usaha, dan peningkatan kualitas pelayanan, sesuai dengan kebutuhan serta kondisi setempat.

Perubahan tersebut tidak berhenti pada kemudahan penggunaan energi. Ketika listrik dimanfaatkan secara produktif, masyarakat memperoleh kesempatan untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang tersedia di desa. Peralatan listrik dapat membantu proses pengolahan hasil produksi, perangkat komunikasi dapat mendukung pencarian informasi harga, dan akses internet—apabila tersedia—dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Dengan demikian, listrik berpotensi menjadi penghubung antara potensi lokal Desa Namu dan peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau.

 

Foto: Sosialisasi dan Pemasangan Jaringan Listrik di Desa Namu

 

Menurut Joni Alexander Heyt Sitorus selaku  Manager UP2K Sulawesi Tenggara (sultra) mengungkapkan bahwa tujuan listrik Desa itu lebih kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat di desa yang dilisttiki

“ Kualitas hidup yang dimaksud dan diharapkan sebagai katalisator peningkatan layanan pendidikan, layanan kesehatan, pertumbuhan ekonomi lokal dgn potensi yang ada. Hingga sejumlah manfaat lainnya.” Ujar Joni.

Foto: Dulu sebelum Listrik PLN Masuk  Desa Namu, Kondisi Gelap Karena Daya Listrik PLTS yang terbatas

 

Foto: Kondisi Camping Ground Setelah Masuknya Listrik PLN
Foto: Kondisi Setelah Listrik PLN Masuk Desa Namu, Seluruh Dusun Sudah Terang, Wisatawan makin nyaman berkeliling desa saat malam

 

Ketua Kelompok Nelayan Namu Bahari Burhan mengakui, bahwa kehadiran listrik PLN sangat mendorong peningkatan nilai ekonomi mereka. Karena sudah bisa menggunakan peralatan pengawetan sehingga tidak ada lagi hasil produksi perikanan yang sering terbuang, karena mengalami pembusukan.

“ Dulu kalau pakai PLTS kami terbatas, tidak bisa pake kulkas apalagi Freezer, jadi ikan hasil tangkapan kami kadang terbuang percuma setelah beberapa hari. Karena kalau mengharap es balok juga terbatas sebab beli es baloknya harus keluar desa jauh. Jadi sangat bersyukur skali listrik PLN sekarang bisa membantu kami mengadakan kulkas bahkan freezer desa untuk menyimpan hasil tangkapan yang sewaktu-waktu bisa di beli baik bagi wisatawan maupun masyarakat sekitar dengan jangka waktu yang masih layak konsumsi dan kesegarannya masih terjaga “ ungkap Burhan.

Foto: Pengadaan Freezer Ikan Untuk Kelompok Nelayan Namu Bahari, Setelah Masuknya Listrik PLN

 

Hal senada juga diungkapkan Erlian selaku Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) sekaligus UMKM Namu Meambo, bahwa diakui kehadiran listrik PLN sangat membantu menambah pergerakan ekonomi masyarakat di desa namu khususnya dalam pengelolaan produksi produk lokal desa untuk kebutuhan wisatawan maupun bisnis yang berkelanjutan.

“ kalau di namu ini, dulu warung-warung paling jam 8 malam sudah mulai tutup, kadang siang pun juga tutup karena sarana listrik masih terbatas, apalagi PLTS kekuatannya dibatasi tiap rumah kalau tidak salah hanya sekitar 350 Watt per rumah dan hanya bisa dinikmati mulai 6 malam sampai menjelang subuh. Termasuk kami yang di Kelompok Wanita Tani (KWT) dan UMKM selama ini memproduksi produk lokal desa namu seperti sirup pala, cemilan-cemilan berbahan alam desa, sambal kerang lokal, minyak kelapa lokal, terbatas aktifitas produksi dan pemasarannya. Karena tidak ada sarana pengawetan seperti pendingin bahan baku dan produk. Tapi Alhamdulillah dengan hadirnya listrik PLN ini mampu mendorong angka produksi kami lebih tinggi dari sebelumnya, promosi digital juga makin lancar kami lakukan bahkan transaksi digital juga kami jalankan sekarang untuk pemesanan produk atau menggunakan Qris “ tutur Erlian.

Foto: Rumah Produksi KWT dan UMKM Desa Namu Konsisten Berproduksi Mulai Pagi bahkan Hingga Malam Hari, setelah hadirnya Sarana Listrik PLN

 

Kehadiran listrik PLN juga sangat terasa dilingkungan wisatawan domestik bahkan mancanegara. Kebutuhan mereka akan listrik di lokasi wisata namu sudah bisa terpenuhi, apalagi dengan kondisi lama tinggal wisatawan rata-rata 2 hari 1 malam, sehingga butuh sarana listrik untuk peralatan elektronik yang mereka bawa masing-masing.

“ keren sekarang desa namu, sudah bebas kita menggunakan HP tidak takut lagi lowbat karena disediakan sarana untuk cas bagi wisatawan saat menginap diarea camping pantai dan bisa diakses 24 jam apalagi yang menginap di homestay sudah aman listriknya semua. Artinya kami juga wisatawan kapanpun selama ada di namu tidak ragu untuk membantu promosi wisata disini, dengan upload keseruan berwisata disini. Karena sudah ada listrik PLN akhirnya bisa pake starlink gratis untuk wisatawan, karena memang disini untuk jaringan seluler belum ada satupun “ ungkap  Julie (wanita/20 Tahun)  Mahasiswi Asal Kota Kendari, yang sedang berwisata di Desa Namu.

Foto: July, Wisatawan Asal Kota Kendari yang Menikmati Camping di Desa Wisata Namu

 

Disisi lain Bapak Nikson kepala Desa Namu selaku pemerintah mengungkapkan bahwa meski hadirnya listrik PLN tidak serta merta meninggalkan fasilitas listrik PLTS, karena konsep hemat energi masih tetap di gerakkan untuk masyarakat desa namu. Sehingga masih ada infrastruktur dan bagian tertentu di wilayah desa namu diperuntukan penggunaan listrik PLTS.

“ Alhamdulillah dengan hadirnya listrik PLN menjadi semangat baru bagi kami di desa namu, untuk menggerakkan ekonomi masing-masing, tentu mendorong produktifitas kerja dan kreatifitas mencari peluang-peluang baru.Namun kehadiran Listrik PLN tidak serta merta meninggalkan fasilitas PLTS kami yang pernah dipake beberapa tahun. Jadi kebutuhan inti masing-masing masyarakat sudah menjadi kebutuhan utama dengan layanan Listrik PLN, dan untuk fasilitas umum sebagian listriknya menggunakan layanan Listrik PLN. Hal ini sebagai bentuk efisiensi juga untuk fasilitas umum di desa khususnya “ ungkap Nikson.

Dari sinilah pergerakan ekonomi masyarakat mulai menjadi hal penting untuk ditelusuri. Apakah kehadiran listrik mendorong munculnya usaha baru? Apakah pelaku usaha mengalami perubahan dalam waktu kerja, jumlah produksi, penjualan, dan pendapatan? Apakah masyarakat merasakan kemudahan dalam menjalankan kegiatan ekonomi sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi inti dalam memahami sejauh mana listrik PLN memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat di wilayah terpencil.

Namun, listrik tidak serta-merta menjamin peningkatan kesejahteraan. Dampaknya sangat bergantung pada kemampuan masyarakat memanfaatkan energi untuk kegiatan produktif, ketersediaan modal, keterampilan, akses transportasi, kondisi jaringan komunikasi, dan jangkauan pasar. Oleh karena itu, kehadiran listrik perlu dilihat sebagai fondasi pembangunan ekonomi yang manfaatnya dapat semakin besar apabila didukung oleh infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat.

Foto : UMKM Desa Namu Sudah Bisa Transaksi Mulai Pagi hingga malam, bahkan sudah bisa menggunakan transaksi Digital 24 jam, dengan sarana Listrik PLN yang sudah tersedia

 

Pada akhirnya, hadirnya listrik PLN di Desa Namu dapat dipahami sebagai lebih dari pembangunan infrastruktur kelistrikan. Ia merupakan peluang untuk membuka ruang produktivitas, menghidupkan usaha masyarakat, memperluas akses terhadap teknologi, dan memperkuat fondasi ekonomi lokal. Terang yang hadir di wilayah terpencil berpotensi menjadi awal dari pergerakan ekonomi yang lebih luas, ketika energi listrik tidak hanya digunakan untuk menerangi ruang kehidupan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menciptakan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kini Desa Wisata Namu dari ruang isolir atas keterbatasan infrastuktur akses dari dan menuju desa, dengan hadirnya listrik PLN 24 jam, memberikan semangat energi baru  dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi yaitu ktersediaan listrik yang memadai, sehingga tidak heran banyak masyarakat setempat meski jauh dari perkotaan namun sudah mampu melek digital karena sudah mampu mengakses informasi selama 24 jam khususnya yang berpotensi untuk peluang peningkatan nilai ekonomi masing-masing, dan sudah membuktikan beberapa aspek kehidupan di desa yang Go Digital, hingga sudah mampu menyelenggarakan event wisata dari pagi hingga malam hari baik event desa, family gathering, hingga event Intenasional. (*)

 

 

Reporter : Ahmad Nizar

Editor: NZ