News

BI Sultra Bekali Mahasiswa UHO Soal Kebanksentralan, Sistem Pembayaran hingga Peluang Karier

874
×

BI Sultra Bekali Mahasiswa UHO Soal Kebanksentralan, Sistem Pembayaran hingga Peluang Karier

Share this article

 

TERAMEDIA.ID, Kota Kendari — Apa sebenarnya peran Bank Indonesia dalam kehidupan sehari-hari masyarakat? Pertanyaan itu menjadi salah satu hal yang dibedah dalam kegiatan edukasi kebanksentralan yang diikuti mahasiswa Kelompok Studi Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Hukum (FH) Universitas Halu Oleo (UHO).

Kegiatan yang digelar Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tersebut berlangsung di Aula KPw BI Sultra, Kamis (24/9/2026).

Tak hanya membahas teori tentang bank sentral, mahasiswa diajak memahami bagaimana kebijakan Bank Indonesia berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, sistem keuangan hingga transaksi pembayaran yang mereka gunakan sehari-hari.

Edukasi tersebut menghadirkan Analis Yunior Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran BI Sultra, Wiweko Rahadian Abyapta, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Wiweko menjelaskan kedudukan, tugas, fungsi dan kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia.

Menurutnya, pemahaman mengenai kebanksentralan penting bagi mahasiswa, terutama mereka yang memiliki ketertarikan pada bidang ekonomi, keuangan, perbankan, pasar modal, hukum maupun kebijakan publik.

“Tujuan kegiatan ini salah satunya memberikan pemahaman mengenai konsep dasar kebanksentralan, termasuk pengertian dan kedudukan Bank Indonesia sebagai bank sentral,” jelas Wiweko.

Ia menerangkan, peran Bank Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebijakan moneter. Bank Indonesia juga memiliki mandat dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran serta turut menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial.

Ketiga aspek tersebut, kata Wiweko, saling berkaitan dalam mendukung terciptanya stabilitas perekonomian.

Karena itu, mahasiswa didorong untuk memahami hubungan antara kebijakan moneter, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran, termasuk bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Dalam sesi edukasi, mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai kebijakan utama Bank Indonesia.

Pembahasan tidak berhenti pada kebijakan di tingkat nasional. Peserta turut mendapatkan gambaran mengenai peran Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah dalam mendukung implementasi kebijakan sekaligus berkontribusi terhadap penguatan perekonomian daerah.

Salah satunya melalui dukungan terhadap digitalisasi pemerintah daerah serta berbagai upaya mendorong sistem pembayaran yang semakin efektif dan efisien.

Mahasiswa juga diajak memahami prinsip sistem pembayaran CeMuMuAh, yakni Cepat, Mudah, Murah, Aman dan Andal.

Konsep tersebut dinilai semakin relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan transaksi pembayaran berbasis digital di masyarakat.

“Harapannya, peserta semakin memahami pentingnya stabilitas nilai Rupiah, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran yang CeMuMuAh dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Wiweko.

Menariknya, edukasi tersebut juga dimanfaatkan untuk membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang berkarier di Bank Indonesia.

Wiweko memperkenalkan sejumlah jalur yang dapat menjadi pilihan mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi yang ingin bergabung dengan Bank Indonesia.

Di antaranya melalui Program Pendidikan Calon Pegawai Muda (PCPM), campus hiring, open recruitment, pro hire, PKWT, serta program magang atau Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Pengenalan berbagai jalur tersebut diharapkan memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai peluang pengembangan karier sekaligus kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak masih berada di bangku perguruan tinggi.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Mahasiswa dari Kelompok Studi Pasar Modal FEB dan FH UHO berkesempatan mendalami berbagai isu terkait kebanksentralan, sistem pembayaran serta kebijakan Bank Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, BI Sultra mendorong agar literasi kebanksentralan di lingkungan perguruan tinggi terus berkembang.

Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda dinilai memiliki posisi penting dalam memahami perkembangan ekonomi dan keuangan, termasuk perubahan pola transaksi masyarakat yang semakin terdigitalisasi.

Edukasi tersebut sekaligus menjadi jembatan antara dunia akademik dengan institusi bank sentral. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengenal Bank Indonesia dari sisi teori, tetapi juga memahami perannya dalam menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, peningkatan literasi kebanksentralan diharapkan dapat membentuk generasi muda yang lebih memahami ekonomi dan keuangan, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan sistem pembayaran yang semakin cepat, aman, efisien dan inklusif.(*)