NewsMetroSosial Budaya

Naskah Kuno Tolaki Jadi Jejak Sejarah, Pemkot Kendari Dorong Pelestarian dan Digitalisasi

44
×

Naskah Kuno Tolaki Jadi Jejak Sejarah, Pemkot Kendari Dorong Pelestarian dan Digitalisasi

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI – Jejak pengetahuan masyarakat Tolaki yang tersimpan dalam naskah kuno dinilai penting untuk diselamatkan sebelum semakin sulit ditemukan dan dipahami generasi berikutnya. Pemerintah Kota Kendari mendorong pelestarian naskah kuno melalui pendataan, perawatan, penelitian hingga pemanfaatan teknologi digital.

Dorongan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Naskah Kuno yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari di Aula Samaturu Balai Kota Kendari, Selasa (29/9/2026). Kegiatan mengangkat tema “Naskah Kuno sebagai Salah Satu Warisan Budaya dan Sumber Informasi Sejarah”.

Mewakili Wali Kota Kendari, Asisten III Sekretariat Daerah Kota Kendari Laode Abdul Manas Salihin mengatakan naskah kuno merupakan bagian dari rekam kehidupan masyarakat masa lalu. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, tradisi, pandangan hidup hingga cara masyarakat terdahulu memahami lingkungan.

“Naskah-naskah kuno yang berkaitan dengan suku Tolaki menjadi bagian dari jejak peradaban yang penting untuk kita kenali,” katanya.

Menurutnya, pelestarian naskah tidak hanya berkaitan dengan menjaga benda fisik. Lebih jauh, upaya tersebut merupakan bagian dari menjaga ingatan dan identitas budaya agar pengetahuan yang diwariskan antargenerasi tidak terputus.

Karena itu, Pemerintah Kota Kendari mendorong agar pelestarian dilakukan dengan pendekatan yang mengikuti perkembangan zaman. Inventarisasi, pendataan, perawatan dan penelitian tetap diperlukan, namun harus diperkuat dengan digitalisasi.

Dengan langkah tersebut, naskah dapat terdokumentasi secara lebih aman, sementara isi dan pengetahuannya bisa diperkenalkan kepada masyarakat melalui ruang digital, konten edukasi maupun media pembelajaran.

“Naskah fisik kita rawat sebagai warisan, sementara teknologi kita manfaatkan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari Rukmana mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya naskah kuno. Selain edukasi perawatan dan perlindungan, sosialisasi mendorong masyarakat berpartisipasi dalam pendataan, pelestarian dan pemanfaatan naskah.

Kegiatan diikuti 141 peserta dari berbagai unsur, mulai dari Perpustakaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kendari, camat dan lurah, tenaga pendidik, pustakawan, komunitas budaya, pemerhati sejarah, pemilik naskah kuno hingga masyarakat umum.

Salah satu narasumber, Dr. M. Sabaruddin, S.H., M.Hum., memaparkan pengalaman dalam menggali pengetahuan masa lalu masyarakat Tolaki. Ia mencontohkan pengetahuan tentang pengolahan cangkul yang tidak hanya berkaitan dengan teknik, tetapi juga memiliki mantra yang dahulu diwariskan secara lisan.

Namun, pengetahuan tersebut kini semakin sulit ditelusuri karena para ahli yang menguasainya sudah sangat terbatas. Dari penelusuran yang dilakukan bersama Dr. Basrin Melamba, pengetahuan tersebut kemudian berhasil didokumentasikan dalam sebuah buku, lengkap dengan peralatan yang digunakan.

“Kalau sekarang sudah tidak ada, sudah susah. Tapi kami sudah mengamankan ilmu pengetahuan masa lalu orang Tolaki dalam mengolah cangkul, sudah jadi buku,” jelasnya.

Sabaruddin menuturkan, proses penggalian pengetahuan tersebut dilakukan dengan keterbatasan sumber daya. Ia bersama Basrin bahkan menyisihkan sebagian penghasilan setiap bulan untuk mendukung perjalanan ke lokasi penelitian dan mencari informan.

Upaya serupa dilakukan untuk mendokumentasikan Taawu, teknologi besi masyarakat Tolaki, serta tanah adat Siwoleuwo. Dalam penelusurannya, sumber pengetahuan tidak hanya berasal dari naskah yang tersimpan di daerah, tetapi juga manuskrip yang berada di luar negeri.

Sebagian sumber ditelusuri melalui koleksi museum di Belanda dan Jerman. Penelusuran tersebut membutuhkan waktu karena peneliti harus membuka berbagai koleksi dan tautan digital untuk menemukan manuskrip yang berkaitan dengan sejarah masyarakat Tolaki.

Sabaruddin menilai pengetahuan yang hanya tersimpan dalam ingatan atau lembaran tanpa dikaji dan dipublikasikan berisiko hilang. Karena itu, keterlibatan akademisi, pemerintah, budayawan, komunitas, media dan generasi muda diperlukan agar warisan tersebut terus dipelajari.

Dalam kegiatan itu juga dilakukan penyerahan buku dari penulis kepada Pemerintah Kota Kendari sebagai bagian dari upaya memperkuat dokumentasi pengetahuan sejarah dan budaya daerah.

Pemkot Kendari berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan sehari, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk menyelamatkan naskah, pengetahuan dan nilai budaya agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang.(SM)