NewsHeadlineMetroPendidikan

Literasi Soal Pengelolaan Sampah, Pemkot Kendari Gandeng Akademisi

1912
×

Literasi Soal Pengelolaan Sampah, Pemkot Kendari Gandeng Akademisi

Share this article

TERAMEDIA.ID, KOTA KENDARI – Pemerintah Kota Kendari mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah melalui diskusi publik dan pelatihan daur ulang sampah kreatif.

Kegiatan diskusi ini diikuti oleh para penggiat literasi, pengrajin daur ulang sampah, akademisi, serta komunitas pemerhati lingkungan. Acara berlangsung di Ruang Samaturu, Kantor Balai Kota Kendari, Rabu (30/4/2025).

Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, menyebut bahwa penanganan permasalahan sampah menjadi prioritas utama, khususnya sampah plastik sekali pakai.

“Karena saat ini kita melihat hampir 50 persen sampah yang dihasilkan berasal dari plastik, dan itu sangat sulit dihancurkan,” ungkapnya.

Ia bahkan mengusulkan agar setiap sekolah memanfaatkan sampah sebagai bahan dasar kerajinan yang memiliki nilai ekonomis.

“Kalau bisa, anak-anak sekolah ditugaskan untuk belajar mengelola sampah,” katanya.

Oleh karena itu, melalui peserta yang hadir, diharapkan dapat membawa perubahan besar dalam penanganan sampah di Kota Kendari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari, Paminuddin, mengatakan bahwa permasalahan sampah merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, jika pengelolaan sampah dilakukan secara tepat, dapat memperpanjang usia Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) yang ada di Kota Kendari.

“Karena ada pengurangan dari sumber, maka usia TPAS yang sebelumnya diperkirakan akan penuh dalam beberapa tahun bisa diperpanjang,” ucapnya.

Luas lahan TPAS Puuwatu adalah 36 hektare, termasuk area tempat tinggal para pekerja kebersihan. Saat ini, baru 6 hektare yang digunakan.

Sementara itu, pemateri sekaligus akademisi, Lies Indryani, memaparkan bahwa berdasarkan data dari sistem pengelolaan sampah nasional, 52 persen atau sekitar 450.000 ton sampah per tahun berasal dari sampah organik atau sampah rumah tangga.

“Sisanya merupakan sampah plastik dan sampah pasar, tetapi sebagian besar tetap berasal dari rumah tangga,” jelasnya.

Ia menilai bahwa edukasi kepada masyarakat harus terus digencarkan agar dapat mengubah pola pikir dan perilaku dalam mengelola sampah.

“Dari yang awalnya kurang peduli terhadap pengelolaan sampah, masyarakat bisa menjadi lebih teredukasi dan mengelola sampah dengan baik dan benar,” bebernya.

Namun, menurutnya, tantangan terbesar masih terletak pada ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan plastik. Oleh karena itu, ia berharap adanya kemitraan multipihak yang didukung oleh teknologi tepat guna.

“Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Harus ada kebijakan tegas terhadap perusahaan swasta yang menghasilkan banyak sampah, agar mereka turut bertanggung jawab dengan menyisihkan sebagian keuntungan untuk mendukung pengelolaan sampah,” pungkasnya. (ADV-NV).

 

Editor:NZ