InternasionalNews

Wakili Gubernur Sultra, Ridwan Badallah Bawa Potensi Maritim Sultra ke Panggung Dunia

365
×

Wakili Gubernur Sultra, Ridwan Badallah Bawa Potensi Maritim Sultra ke Panggung Dunia

Share this article

TERRAMEDIA.ID, Fujian,Tiongkok — Potensi kelautan dan perikanan Sulawesi Tenggara menjadi sorotan dalam forum maritim internasional. Mewakili Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Dr. Ridwan Badallah, tampil sebagai pembicara dalam forum Marine Biomedicine and Blue Economic Development pada rangkaian The World Maritime Equipment Conference 2026, Jumat (16/10/2026), di Fujian, Tiongkok.

Forum yang dihadiri perwakilan dari 80 negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa ini menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta mendorong pengembangan sektor kemaritiman, biomedis kelautan, dan ekonomi biru berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi panel, Ridwan Badallah memaparkan kekayaan sumber daya maritim Sulawesi Tenggara yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Potensi tersebut mencakup sektor perikanan, ekosistem pesisir, biota laut, hingga peluang riset dan inovasi marine biomedicine.

Dalam paparannya, Ridwan menjelaskan bahwa potensi ekonomi biru Sulawesi Tenggara tersebar di 17 kabupaten/kota. Untuk memudahkan pemetaan dan pengembangan, wilayah tersebut dikelompokkan menjadi empat kawasan utama.

Wilayah I meliputi Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana. Wilayah II mencakup Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Kota Kendari, Konawe Utara, dan Konawe. Wilayah III meliputi Buton Tengah, Muna, Muna Barat, dan Buton Utara. Sementara Wilayah IV mencakup Wakatobi, Buton Selatan, Buton, dan Kota Baubau.

Pemetaan tersebut mencakup beragam sumber daya, mulai dari wilayah kelola laut, garis pantai, hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, rawa, danau, hingga sungai besar. Potensi sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan juga menjadi bagian dari sumber daya yang dapat mendukung pengembangan ekonomi biru.

Selain kekayaan alam, keberadaan pelabuhan perikanan beserta fasilitas dan infrastruktur pendukung turut menjadi modal penting dalam memperkuat konektivitas, meningkatkan pengolahan hasil laut, serta membuka peluang pengembangan industri maritim bernilai tambah.

Tak hanya mengandalkan produksi perikanan, Sulawesi Tenggara juga memiliki peluang dalam pengembangan marine biomedicine, yakni pemanfaatan sumber daya hayati laut untuk mendukung penelitian dan pengembangan produk biomedis.

Kekayaan terumbu karang, terutama di kawasan Wakatobi, menjadi salah satu potensi ekosistem yang mendapat perhatian. Selain itu, biota laut seperti ikan, mangrove, dan spons laut berpeluang dikembangkan melalui penelitian ilmiah, inovasi teknologi, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

Pengembangan sektor ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku industri. Dukungan riset dan teknologi menjadi faktor penting agar kekayaan hayati laut tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Meski demikian, pemanfaatannya perlu dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir.

Dari sektor perikanan, Sulawesi Tenggara berada dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 dan 714. Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, jumlah tangkapan ikan yang diperbolehkan mencapai 697.730 ton per tahun di WPPNRI 713 dan 731.486 ton per tahun di WPPNRI 714.

Sementara itu, berdasarkan data sementara Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2025, potensi produksi perikanan tangkap meliputi tuna sebanyak 16.021 ton, cakalang 19.753 ton, dan tongkol 16.489 ton.

Komoditas tersebut memiliki peluang pasar ekspor ke sejumlah negara, di antaranya Jepang, Belanda, Singapura, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Adapun potensi produksi budidaya rumput laut tercatat mencapai 212.992 ton. Angka ini menunjukkan besarnya peluang pengembangan usaha budidaya, pengolahan, dan diversifikasi produk berbasis sumber daya kelautan.

Potensi tersebut membuka ruang bagi penguatan rantai pasok perikanan, peningkatan kualitas produk, pengembangan industri pengolahan, serta penciptaan nilai tambah yang dapat dirasakan oleh masyarakat pesisir.

Ridwan Badallah menegaskan bahwa kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan Sulawesi Tenggara merupakan modal strategis untuk membangun ekonomi biru yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, penguatan inovasi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, lanjutnya, terbuka terhadap peluang kerja sama dengan Provinsi Fujian maupun negara-negara lain yang berpartisipasi dalam forum tersebut, termasuk Singapura, Polandia, dan Maroko.

Peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain pertukaran pengetahuan, riset kelautan, pengembangan bioteknologi laut, penguatan industri perikanan, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk maritim.

Melalui kerja sama tersebut, potensi sumber daya laut diharapkan dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih inovatif, terintegrasi, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Keikutsertaan Sulawesi Tenggara dalam The World Maritime Equipment Conference 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah kepada mitra internasional dan memperluas jejaring kerja sama di sektor kemaritiman.

Dengan kekayaan ekosistem laut, potensi perikanan, budidaya rumput laut, serta peluang pengembangan marine biomedicine, Sulawesi Tenggara memiliki ruang untuk mendorong investasi, memperkuat inovasi, dan mengembangkan ekonomi biru yang inklusif serta berkelanjutan.(*)

 

Editor:NZ