NewsHeadlineMetroPolitik

Potensi Pemilihan Gubernur Sultra dari Fenomena Pemilu 2024

166
×

Potensi Pemilihan Gubernur Sultra dari Fenomena Pemilu 2024

Share this article

TERAMEDIA.ID, KOTA KENDARI – Dalam peta politik Sulawesi Tenggara yang terus bergerak dinamis, Prof. Dr. Eka Suaib, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo, menyampaikan analisis mendalam mengenai potensi hasil pemilihan gubernur mendatang berdasarkan data riil count Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan angka partisipasi pemilih mencapai 71%. Analisis ini mengungkap lima dimensi kritis yang akan membentuk kontur pemilihan gubernur Sulawesi Tenggara.

Eka suaib menegaskan Analisis ini juga menyoroti pentingnya pemilu legislatif sebagai indikator awal untuk pemilihan gubernur, mengingat kompleksitas pilihan pemilih dan strategi partai politik dalam menghadapi pemilihan. “ Faktor-faktor seperti jumlah kertas suara yang banyak dan kriteria pencalonan menjadi pertimbangan kritis bagi pemilih dalam menentukan pilihan mereka.” Ujarnya (24/2/2023)

Pertama, dalam menantikan pengumuman resmi hasil pemilu legislatif 2024 untuk daerah pemilihan Sulawesi Tenggara, terlihat jelas bahwa beberapa partai politik seperti Nasdem, PDI-P, PAN, Golkar, dan Demokrat berhasil mengamankan kursi di DPRD. Sementara itu, PKB dan PBB mencatatkan lonjakan signifikan, menunjukkan dinamika politik yang tidak terduga. Kondisi ini mempersiapkan panggung bagi pembentukan koalisi strategis menjelang pemilihan gubernur, dengan PPP, Gerindra, dan Hanura masih berupaya memperkuat posisi mereka.

Kedua, pembukaan ‘kotak pandora’ figur politik dari partai dominan mengungkap adanya figur-figur kultural kuat seperti Ali Mazi (Nasdem), Ridwan Bae dan Rahman Farisi (Golkar), serta Abdul Rahman Saleh (PAN), yang menawarkan wawasan baru terhadap potensi kepemimpinan daerah.

Ketiga, fenomena ‘split voting’ mengindikasikan adanya perbedaan preferensi pemilih antara pemilu legislatif dengan pemilihan gubernur yang mendatang. Hal ini tercermin dari perolehan suara beberapa kandidat yang berbeda signifikan antara dua pemilihan tersebut, menyoroti kompleksitas pilihan politik masyarakat Sultra.

Keempat, ketiadaan dominasi partai politik yang jelas di DPRD Sultra menandakan bahwa proses pembentukan koalisi untuk pemilihan gubernur akan menjadi sangat dinamis, memungkinkan berbagai skenario politik menjelang akhir periode pendaftaran calon.

Kelima, faktor kekuatan individu figur politik diperkirakan akan lebih berpengaruh daripada kekuatan partai politik itu sendiri, menyoroti peran penting personalitas dalam politik lokal. Figur seperti Ruksamin (PBB), Jaelani (PKB), dan ASR (PPP) memiliki pengaruh signifikan yang dapat mengubah arah pemilihan gubernur.

Sebagai catatan penting, peran kandidat capres dan caleg sebagai ‘street level politicians’ dalam memperkenalkan platform partai mereka tidak bisa dianggap remeh, mengingat pengaruhnya yang besar terhadap pemilihan legislatif 2024 di Sulawesi Tenggara. Dengan analisis ini, kita dapat memahami lebih dalam tentang dinamika politik lokal dan persiapan menuju pemilihan gubernur 2024.*(AN)

 

Editor:NZ