NewsDaerahPendidikan

Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah menjadi Lilin Aromatik

255
×

Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah menjadi Lilin Aromatik

Share this article

TERAMEDIA.ID, KONAWE SELATAN – Pada bulan Desember 2023 sampai Februari 2024 mahasiswa yang tergabung dalam unit KKN-PPM UGM SG-008 melaksanakan kegiatan kuliah kerja nyata di Desa Batu Jaya, Namu, dan Malaringgi, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan selama 50 hari.

Mahasiswa yang tergabung di SG-008 ini sebanyak 29 mahasiswa yang dari berbagai program studi dan fakultas. Program kerja yang akan dikerjakan mahasiswa membuat dan mengembangkan desa menjadi desa wisata yang sesuai dengan tema KKN-PPM UGM SG-008 Konawe Selatan yaitu “Optimalisasi Potensi Lokal melalui Pemberdayaan Masyarakat menuju Desa Wisata di Desa Namu, Batu Jaya, dan Malaringgi”. Kemudian, sebanyak 29 mahasiswa tersebut dibagi menjadi 4 tim yang mewakili setiap desa dan sering disebut sebagai sub-unit.

Kemudian, sub-unit di Malaringgi beranggotakan 8 orang dan dari berbagai fakultas, yaitu Fakultas MIPA, Fakultas Geografi, Fakultas Kehutanan, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Ilmu Budaya, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Dengan fakultas yang berbeda-beda ini tentu saja memiliki kemampuan dalam mewujudkan tema KKN-PPM UGM SG-008.

Sebelum menuju desa wisata dalam pengoptimalannya dapat melalui ibu-ibu yang ada di Desa Malaringgi dengan mengajak mereka melakukan kegiatan yang bermanfaat dan dapat menjadikan ilmu baru atau pengalaman mereka dan peluang untuk membuat atau meningkatkan UMKM di Desa tersebut. Salah satu kegiatannya mengolah limbah rumah tangga menjadi barang yang bermanfaat, yaitu membuat lilin dari minyak jelantah atau minyak bekas. Pembuatan lilin cukup sederhana dengan alat dan bahan, yaitu wajan atau alat penggorengan, cetakan lilin, benang, lidi, stearic acid atau asam stearate, minyak sereh, crayon, dan minyak jelantah atau minyak bekas. Fungsi dari stearic acid atau asam stearate dalam pembuatan lilin untuk membekukan minyak yang nantinya menjadi lilin.

Proses dalam pembuatan lilin yang pertama menyiapkan cetakan dan potongan lidi untuk mengaitkannya dengan benang yang akan menjadi sumbu, kedua memanaskan minyak jelantah atau minyak bekas dicampur dengan stearic acid atau asam stearate sampai tercampur sempurna, ketiga minyak sereh diteteskan untuk menghilangkan bau yang ada di minyak jelantah atau minyak bekas, keempat minyak yang sudah siap dituangkan ke dalam cetakan dan diberi pewarna dari crayon yang dipotong kecil-kecil di dalam cetakan tersebut, dan yang terakhir proses pembekuan kurang lebih 3-5 jam.

Kegiatan program kerja pembuatan lilin dari minyak jelantah atau minyak bekas dilaksanakan di 4 dusun yang ada di Desa Malaringgi. Dusun 1-2 yang disebut dengan Dusun Pembaleyan dan Dusun 3-4 disebut dengan Dusun Ben Benua.

Tanggapan atau respon dari ibu-ibu di keempat dusun dari program kerja ini sangatlah antusias. “Kalau sudah jadi lilin ini sangat bermanfaat untuk kami Kak karena masih sering lampu padam dan bisa juga untuk merayakan ulang tahun kan” ucap Ibu Hani (9/01/24).

Selama kegiatan program kerja yang mahasiswa lakukan tersebut di bawah bimbingan dan arahan dari Dra. Eko Tri Sulistyani, M.SC. yang memberikan banyak informasi dan pengetahuan tentang desa Malaringgi untuk kita menyesuaikan dan mengoptimalkan program kerja yang sesuai dengan keadaan di desa tersebut.

Kemudian, Masyarakat di Desa Malaringgi juga sangat antusias dalam membantu program kerja yang mahasiswa lakukan. Kemudian, terwujudnya program kerja dan suksesnya program kerja ini atas bantuan dari berbagai pihak, seperti perangkat desa dan swadaya masyarakat. Harapannya untuk ibu-ibu yang sudah melakukan atau mengikuti kegiatan ini dapat mengembangkannya menjadi sebuah UMKM kecil atau dapat mengolah dan mengurangi limbah rumah tangga yang lain menjadi barang yang bermanfaat.(AN)

Editor:NZ