Uncategorized

Dialog Budaya Burangasi Soroti Pentingnya Dokumentasi Sejarah dan Pelestarian Tradisi

28
×

Dialog Budaya Burangasi Soroti Pentingnya Dokumentasi Sejarah dan Pelestarian Tradisi

Share this article

TERAMEDIA.ID, BUTON SELATAN – Keberlanjutan budaya dan pelestarian warisan leluhur menjadi pembahasan utama dalam dialog budaya yang digelar sebagai bagian dari Festival Budaya Burangasi 2026, pada 22–24 Oktober 2026.

Dialog yang berlangsung di alun-alun Desa Burangasi ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni budayawan La Ode Alirman, S.H., akademisi Dr. La Ode Balawa, M.Hum., Sukman, S.STP., yang mewakili Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton Selatan, serta tokoh lokal Burangasi, H. M. Yasin Welson.

Diskusi tersebut mengulas berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan budaya Burangasi, mulai dari pendokumentasian peninggalan sejarah hingga penguatan peran pemerintah dan masyarakat dalam mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.

Budayawan La Ode Alirman, S.H., dalam paparannya menekankan pentingnya mendokumentasikan peninggalan sejarah, baik berupa benda maupun warisan tak benda, ke dalam dokumen sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, dokumentasi tersebut menjadi sumber pengetahuan sekaligus pegangan bagi generasi mendatang untuk mengenal, memahami, dan mempelajari identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

“Generasi penerus harus punya pegangan. Untuk itu, perlunya ada dokumen sejarah yang dapat dijadikan sumber pengetahuan,” ungkapnya.

Dokumentasi sejarah dinilai penting agar pengetahuan mengenai tradisi, adat istiadat, serta berbagai peninggalan leluhur tidak hanya bergantung pada cerita lisan, tetapi juga tersimpan sebagai referensi yang dapat dipelajari lintas generasi.

Sementara itu, Sukman, S.STP., menyampaikan dukungan pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian budaya Burangasi. Ia mengatakan, berbagai pihak telah diajak bekerja sama untuk menjaga agar nilai-nilai budaya setempat tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pendidikan. Menurutnya, bahasa daerah telah menjadi bagian dari muatan lokal dalam pembelajaran di sekolah, sehingga generasi muda dapat mengenal dan mempelajari bahasa serta budaya daerah sejak dini.

“Bahasa daerah menjadi salah satu muatan lokal dalam pembelajaran siswa-siswi di sekolah. Hal ini menjadi bagian penting untuk tetap melestarikan budaya yang ada,” ujarnya.

Di tengah berbagai keterbatasan penyelenggaraan, dialog budaya tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Ratusan warga memadati lapangan alun-alun Desa Burangasi untuk mengikuti jalannya diskusi.

Kehadiran masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian budaya masih menjadi perhatian bersama. Festival Budaya Burangasi pun tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan tradisi, tetapi juga wadah bertukar gagasan untuk merumuskan langkah-langkah nyata dalam menjaga warisan leluhur.

Melalui dialog ini, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari tokoh adat, budayawan, akademisi, pemerintah hingga masyarakat.*red