NewsMetro

Panen Padi di Tengah Kekeringan, Siska Dorong Amohalo Jadi Sentra Pangan Kendari

41
×

Panen Padi di Tengah Kekeringan, Siska Dorong Amohalo Jadi Sentra Pangan Kendari

Share this article

TERAMEDIA.ID, KENDARI – Hamparan sawah Amohalo, Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, kembali memasuki masa panen. Di tengah tekanan kekeringan yang berdampak pada sebagian besar areal persawahan, petani masih mampu memanen padi musim tanam kedua 2026.

Panen berlangsung di kawasan persawahan Amohalo, Senin (28/9/2026), dengan luas lahan yang dipanen mencapai 9 hektare. Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Kendari Siska Karina Imran bersama jajaran pemerintah daerah dan kelompok tani.

Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari Imran Ismail mengatakan, kawasan persawahan Amohalo memiliki luas panen sekitar 330 hektare. Namun, musim tanam kedua tahun ini tidak berjalan tanpa kendala.

Sebanyak 320 hektare lahan terdampak kekeringan. Dari luasan tersebut, sekitar 200 hektare mengalami dampak ringan, 40 hektare terdampak sedang dan 32 hektare mengalami dampak berat. Sementara lahan yang dilaporkan gagal panen mencapai 10 hektare.

Meski menghadapi kondisi tersebut, sebagian petani tetap mampu mempertahankan produksi. Salah satu faktor pendukungnya adalah bantuan pompa air yang digunakan untuk mengalirkan air dari sumber di Sungai Wanggu.

Imran menyampaikan apresiasi kepada Balai Wilayah Sungai Sulawesi Tenggara yang selama sekitar satu pekan menyiapkan mobil pompa air untuk membantu kebutuhan air di kawasan persawahan Amohalo. Dukungan juga datang dari pemerintah daerah dan Bulog yang terus menyerap hasil panen petani.

Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan, potensi pertanian di Amohalo harus tetap dijaga meski Kota Kendari merupakan wilayah perkotaan. Menurutnya, kawasan persawahan tersebut menjadi salah satu kekuatan daerah dalam mendukung ketersediaan pangan.

“Ini adalah lokasi persawahan Kota Kendari yang kurang lebih 320 hektar lahan persawahan di sini, yang memang ini menjadi kebanggaan Kota Kendari,” kata Siska.

Siska menilai pemerintah tidak boleh kehilangan semangat untuk mengembangkan sektor pertanian hanya karena menghadapi kendala seperti kekeringan maupun banjir. Pemerintah, kata dia, perlu terus memperkuat dukungan terhadap petani, mulai dari infrastruktur hingga sarana produksi.

Ia mencontohkan sejumlah kebutuhan petani di Amohalo yang telah ditindaklanjuti pemerintah. Jalan menuju kawasan persawahan yang sebelumnya dikeluhkan rusak telah diaspal, sementara penerangan juga dipasang setelah petani menyampaikan kebutuhan tersebut.

Dukungan juga diarahkan pada penguatan usaha petani. Siska menyebut pemerintah menyediakan akses permodalan tanpa bunga dan tanpa agunan bagi masyarakat yang membutuhkan tambahan modal usaha. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan fasilitas penggilingan padi yang telah direvitalisasi.

Menurutnya, hasil panen petani tidak perlu dibawa keluar daerah untuk digiling jika fasilitas yang tersedia di kawasan tersebut dapat dimaksimalkan.

“Jadi teman-teman enggak perlu lagi bawa gabahnya keluar. Itu membutuhkan juga ada mobilisasi, sehingga pasti nanti kembali ke sini kita beli lagi, naik lagi harganya,” ujarnya.

Selain sektor produksi, Siska juga menyoroti kebutuhan dasar masyarakat di sekitar kawasan persawahan. Ia meminta fasilitas kesehatan yang berada di sekitar Amohalo diperbaiki dan kembali dimaksimalkan pelayanannya agar masyarakat tidak harus menempuh jarak jauh ketika membutuhkan layanan kesehatan.

Siska meminta seluruh pihak memaksimalkan dukungan lintas sektor agar produksi pangan di Kota Kendari tetap tumbuh dan kebutuhan petani dapat ditangani secara bertahap.

Sementara itu, Kepala BRMP Sulawesi Tenggara Kamri Alwi menyampaikan peluang peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi pertanian modern. Ia menyebut metode tanam rapat yang telah diuji coba di Kolaka Timur mampu menghasilkan produktivitas hingga lebih dari 12 ton per hektare pada beberapa hasil panen.

Untuk Kota Kendari, sekitar 340 hektare masuk dalam target program pertanian yang sedang didorong, sementara luas baku sawah yang tercatat sekitar 320 hektare. Kamri meminta luasan lahan yang belum masuk dalam data tersebut segera dikoordinasikan dengan ATR/BPN.

Ia juga menyebut dukungan lain yang dapat dimanfaatkan petani, mulai dari pupuk, silika, dolomit cair hingga teknologi drone untuk mempercepat penyemprotan tanaman.

Tak hanya produksi, perhatian diarahkan pada penanganan pascapanen. BRMP Sulawesi Tenggara memiliki dukungan fasilitas dryer dengan kapasitas 8, 10 hingga 30 ton yang dapat membantu petani mengeringkan gabah, terutama saat musim hujan.

Kamri menjelaskan, pengeringan yang tidak optimal dapat menurunkan kualitas beras. Karena itu, fasilitas pengering dan penggilingan perlu dimanfaatkan untuk menjaga mutu hasil panen sekaligus meningkatkan nilai jual beras petani.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah bantuan alat mesin pertanian juga diserahkan kepada kelompok tani. Bantuan itu antara lain tiga unit combine harvester, dua unit traktor roda dua serta tiga unit pompa air.

Ketua Gapoktan Samaendre, Arif, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap petani Amohalo. Menurutnya, bantuan infrastruktur dan sarana pertanian yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil panen.

Bagi Pemkot Kendari, panen musim tanam kedua ini menjadi momentum untuk terus memperkuat kawasan Amohalo sebagai bagian penting dari potensi pertanian perkotaan.(SM)