NewsDaerahPariwisataSosial Budaya

Ma’acia, Pesta Adat yang Merawat Rasa Syukur dan Kebersamaan Warga Burangasi

39
×

Ma’acia, Pesta Adat yang Merawat Rasa Syukur dan Kebersamaan Warga Burangasi

Share this article

TERAMEDIA.ID,BURANGASI – Festival Budaya Burangasi 2026 memasuki hari terakhir pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Di tengah suasana kampung yang dipenuhi semangat kebersamaan, ratusan warga tampak bahu-membahu mempersiapkan segala kebutuhan untuk pelaksanaan pesta adat Ma’acia.

Bagi masyarakat Burangasi, Ma’acia bukan sekadar perayaan untuk menutup rangkaian festival budaya. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas segala hasil yang diperoleh sepanjang tahun, sekaligus menjadi ruang untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Sejak pagi, warga mulai menyiapkan berbagai panganan hasil bumi yang akan disajikan dalam pesta adat. Tidak hanya masyarakat yang menetap di Desa Burangasi, sejumlah warga perantauan juga sengaja pulang kampung untuk menyaksikan dan mengikuti langsung tradisi yang menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.

Di sebuah pondok kayu yang berdiri di atas bukit, tepat di tengah kampung, aktivitas warga semakin ramai. Bangunan yang dikenal dengan nama baruga itu menjadi pusat pelaksanaan pesta adat Ma’acia, tempat masyarakat berkumpul untuk merayakan rasa syukur dalam suasana penuh kekeluargaan.

Baruga bukan sekadar tempat berkumpul. Di ruang inilah masyarakat Burangasi merawat ingatan tentang tradisi leluhur, mempertemukan generasi tua dan muda, serta memperkuat ikatan yang menyatukan mereka sebagai satu komunitas.

Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh warga duduk bersila dengan tertib di pelataran baruga. Di hadapan masing-masing warga, tersaji sebuah wadah yang disebut talang. Di dalamnya terdapat beragam hidangan, mulai dari umbi-umbian hasil bumi, nasi, ikan, ayam, hingga aneka jajanan tradisional.

Berbagai sajian tersebut bukan sekadar hidangan untuk disantap bersama. Hasil bumi yang dihadirkan dalam talang menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan masyarakat yang dekat dengan alam, sekaligus simbol rezeki yang patut disyukuri dan dinikmati bersama.

Dalam tradisi Ma’acia, kebersamaan tidak hanya ditunjukkan melalui kehadiran warga, tetapi juga melalui setiap tahapan ritual yang dijalankan secara turun-temurun.

Rangkaian acara diawali dengan posambua, sebuah prosesi yang dilakukan para tetua adat atau kolaki dengan saling memberikan panganan hasil panen masyarakat. Umbi-umbian dan lapa-lapa, yakni olahan beras atau ketan yang dibungkus menggunakan anyaman daun kelapa, menjadi bagian dari pemberian tersebut.

Prosesi ini mengandung makna kasih sayang dan kepedulian antarsesama warga Burangasi. Melalui saling berbagi, masyarakat diajak untuk mengingat bahwa kebahagiaan tidak hanya terletak pada hasil yang diperoleh secara pribadi, tetapi juga pada kesediaan untuk berbagi dengan orang lain.

Setelah posambua, rangkaian pesta adat dilanjutkan dengan bhatata, yakni pemanjatan doa sakral masyarakat Burangasi yang disertai sumpah adat yang tidak boleh dilanggar.

Pada tahapan ini, suasana berlangsung khidmat. Doa dan sumpah adat menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai yang diwariskan para leluhur, sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya memelihara keharmonisan, menghormati adat, dan menjaga hubungan baik antarsesama.

Bhatata menjadi pengingat bahwa tradisi bukan hanya tentang apa yang diwariskan dari masa lalu, melainkan juga tentang nilai-nilai yang harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak pesta adat Ma’acia ditandai dengan kegiatan menyantap seluruh hidangan yang tersedia di dalam talang secara bersama-sama. Para tetua adat, tamu undangan, dan seluruh masyarakat menikmati sajian yang telah dipersiapkan.

Tidak ada sekat yang memisahkan mereka. Semua duduk bersama, menikmati hidangan yang sama, dalam suasana kekeluargaan yang hangat.

Di tengah kebersamaan itu, Ma’acia memperlihatkan makna syukur yang lebih luas. Rezeki yang diperoleh tidak hanya dirayakan sebagai pencapaian individu, tetapi juga menjadi alasan untuk berkumpul, berbagi, dan memperkuat persaudaraan.

Kemeriahan berlanjut setelah seluruh rangkaian utama pesta adat selesai. Warga dan tamu undangan diajak menari bersama dengan iringan tabuhan gendang yang menggema di pelataran baruga.

Gerakan tari yang diikuti para peserta menghadirkan suasana akrab dan penuh kegembiraan. Warga yang sejak awal mengikuti prosesi adat dengan khidmat kini larut dalam perayaan bersama.

Pertunjukan silat oleh warga Burangasi turut melengkapi rangkaian acara. Atraksi tersebut menjadi salah satu daya tarik yang memperlihatkan kekayaan tradisi dan keterampilan masyarakat setempat.

Pesta adat Ma’acia pun menjadi penutup yang bermakna bagi Festival Budaya Burangasi 2026. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan leluhur, mensyukuri hasil bumi, dan merawat kebersamaan melalui ritual yang diwariskan lintas generasi.

Di baruga yang berdiri di atas bukit itu, nilai-nilai kebudayaan tidak hanya dikenang melalui cerita. Semuanya dihidupkan melalui tindakan, mulai dari saling berbagi panganan, memanjatkan doa, menyantap hidangan bersama, hingga menari dan merayakan kebersamaan.

Bagi masyarakat Burangasi, Ma’acia menjadi pengingat bahwa kekayaan sebuah kampung bukan semata-mata diukur dari hasil bumi yang diperoleh, melainkan juga dari kuatnya persaudaraan dan kesediaan masyarakat untuk terus menjaga warisan leluhur.

Selama nilai-nilai itu tetap diwariskan dan dijalankan, Ma’acia akan terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Burangasi, menyatukan masa lalu, masa kini, dan generasi yang akan datang.*red